Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Laut Bercerita

Prolog ​Sastra sering kali menjadi cermin paling jujur dalam menangkap kegelisahan sebuah zaman. Ketika lembar demi lembar novel Laut Bercerita dibuka, narasi yang dibangun melalui tokoh Biru Laut bukan sekadar fiksi sejarah yang meratapi masa lalu. Lebih dari itu, kutipan-kutipan Biru Laut menghadirkan sebuah dialektika yang sangat kuat: sebuah perpaduan antara optimisme yang membubung tinggi sekaligus kecemasan yang mendalam tentang masa depan Indonesia. ​Sebagai seorang akademisi di bidang pendidikan, saya melihat suara Biru Laut di tengah represi politik era itu sebagai manifestasi dari sebuah ruang kelas besar bernama "Kesadaran Kritis". Ia membayangkan sebuah negeri yang lebih adil—sebuah ekosistem kebangsaan tempat masyarakat dapat menyampaikan kritik tanpa perlu dihantui rasa takut. Refleksi ini menegaskan sebuah aksioma mendasar: demokrasi yang sehat seharusnya bertumpu pada perlindungan terhadap perbedaan pendapat, bukan justru mengonversinya menjadi sebuah ancam...

Postingan Terbaru

Refleksi Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Ketika Ibadah Bertemu Kekuasaan

Siswa UPTD SMPN 1 Blega Lolos Bintang Sobat SMP Kemendikdasmen

​Standar Ganda dan Logika yang Terbalik

Bisa Kuliah di Kampus Negeri

Saat Integritas Digadaikan demi Piala

LOMBA GURU INSPIRATIF

Garis Demarkasi Menakar Batas Kontrol Sosial dan Wewenang Audit di Sekolah

Refleksi Hari Buku Sedunia

NTT Juara Membaca