Laut Bercerita
Prolog Sastra sering kali menjadi cermin paling jujur dalam menangkap kegelisahan sebuah zaman. Ketika lembar demi lembar novel Laut Bercerita dibuka, narasi yang dibangun melalui tokoh Biru Laut bukan sekadar fiksi sejarah yang meratapi masa lalu. Lebih dari itu, kutipan-kutipan Biru Laut menghadirkan sebuah dialektika yang sangat kuat: sebuah perpaduan antara optimisme yang membubung tinggi sekaligus kecemasan yang mendalam tentang masa depan Indonesia. Sebagai seorang akademisi di bidang pendidikan, saya melihat suara Biru Laut di tengah represi politik era itu sebagai manifestasi dari sebuah ruang kelas besar bernama "Kesadaran Kritis". Ia membayangkan sebuah negeri yang lebih adil—sebuah ekosistem kebangsaan tempat masyarakat dapat menyampaikan kritik tanpa perlu dihantui rasa takut. Refleksi ini menegaskan sebuah aksioma mendasar: demokrasi yang sehat seharusnya bertumpu pada perlindungan terhadap perbedaan pendapat, bukan justru mengonversinya menjadi sebuah ancam...