Banyak Telur yang Berkokok
Banyak Telur yang Berkokok Ketika Popularitas Mendahului Kedalaman Ilmu Di era digital, menjadi terkenal jauh lebih mudah daripada menjadi benar-benar berilmu. Seseorang dapat mengumpulkan jutaan pengikut hanya dengan kemampuan berbicara yang meyakinkan, kemasan visual yang menarik, atau bantuan algoritma media sosial. Sayangnya, popularitas sering kali dianggap sebagai ukuran kebenaran, padahal keduanya tidak selalu berjalan beriringan. Tidak semua yang viral lahir dari kedalaman ilmu, sebagaimana tidak semua yang tenang berarti kehilangan cahaya. Jauh sebelum media sosial menjadi ruang perebutan perhatian publik, Syaikhona Kholil Bangkalan telah meninggalkan sebuah perumpamaan yang begitu tajam sekaligus relevan hingga hari ini: "banyak telur yang berkokok." Perumpamaan ini sederhana, tetapi menyimpan kritik yang sangat mendalam. Telur tidak mungkin berkokok karena ia belum menetas, belum tumbuh, dan belum melewati proses yang menjadikannya seekor ayam jantan. Dalam bahas...