Iqro
Iqro’: Senyum Abadi di Balik Gerbang Al-Qur’an Kita
Bagi kita yang tumbuh besar di era 90-an, ada satu pemandangan yang pasti terekam jelas di ingatan: sore hari yang riuh dengan suara anak-anak berbaju koko dan mukena, menenteng sebuah buku tipis bersampul hitam. Ya, buku Iqro’.
Bagi jutaan anak di Indonesia, Malaysia, hingga Brunei, buku sederhana ini bukan sekadar alat belajar. Ia adalah "gerbang pertama" yang mempertemukan kita dengan indahnya untaian ayat suci Al-Qur’an. Namun, pernahkah kita benar-benar memperhatikan sosok di balik sampulnya?
Sosok di Balik Lensa Kacamata
Di sampul belakang atau bagian dalam, sering kali kita melihat foto seorang lelaki tua bersahaja. Beliau berkacamata, menggenggam tongkat, dan menyiratkan keteduhan. Beliau adalah K.H. As’ad Humam, ulama asal Yogyakarta kelahiran 1933.
Banyak dari kita yang mungkin belum tahu bahwa metode yang terlihat "sederhana" ini sebenarnya adalah sebuah revolusi. Sebelum Iqro’ lahir, belajar membaca Al-Qur’an seringkali dianggap sulit dan memakan waktu lama. K.H. As’ad Humam mengubah paradigma itu dengan menawarkan metode yang praktis dan sistematis.
Cahaya dalam Keterbatasan
Kisah hidup beliau adalah bukti bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk memberi manfaat bagi semesta. Akibat sebuah kecelakaan, beliau mengalami keterbatasan gerak. Namun, semangat dakwahnya justru semakin melesat.
Dengan ketekunan yang luar biasa, beliau terus menyempurnakan metode Iqro’ hingga akhirnya diakui secara nasional pada tahun 1988. Tak butuh waktu lama bagi metode ini untuk melintasi batas negara, membawa kemudahan bagi umat Muslim di berbagai penjuru Asia Tenggara.
Warisan yang Terus Mengalir
Kini, meski K.H. As’ad Humam telah tiada, "suara" beliau tetap hidup. Setiap kali seorang anak kecil mengeja "Alif-Ba-Ta" dengan lancar, atau setiap kali seorang mualaf menemukan kemudahan dalam mengenal huruf hijaiyah, pahala jariyah beliau terus mengalir.
Beliau mengajarkan kita bahwa karya yang dibuat dengan keikhlasan akan memiliki "napas" yang panjang. Terima kasih, Kyai As’ad Humam. Melalui tongkat dan kacamata itu, Engkau telah membantu jutaan mata melihat cahaya Al-Qur’an.
Oleh : Aupdentata

Komentar
Posting Komentar