Mens Rea
Mens Rea: Saat Tawa Menjadi Senjata, Saat Kritik Tak Lagi Tabu
Oleh: Abdulloh Aup
Narasi Pembuka
Di panggung republik yang kerap riuh dengan retorika, kita seringkali terjebak dalam sekat-sekat formalitas yang kaku. Antara penguasa yang minta dihormati, dan rakyat yang bingung bagaimana cara mengoreksi. Namun, dalam bentangan sejarah Indonesia modern, muncul sebuah dokumen audiovisual yang mencatat denyut nadi demokrasi kita pasca-reformasi.
Sebut saja ia: "Mens Rea".
Bukan sekadar pertunjukan komedi tunggal, tapi sebuah saksi bisu bahwa kebebasan berpendapat bukan sekadar jargon di atas kertas konstitusi. Di tangan Pandji Pragiwaksono, dinamika kekuasaan dikuliti secara telanjang. Tanpa eufemisme, tanpa basa-basi yang membosankan.
Menggugat Sakralitas, Menegakkan Daulat
Mengapa ini menjadi penting? Karena "Mens Rea" hadir sebagai pendobrak. Ia datang menantang sakralitas semu para pejabat publik. Di tengah tatanan demokrasi yang (katanya) mulai matang, ia mengingatkan kita pada satu prinsip dasar: Tidak ada satu pun figur atau institusi yang boleh merasa kebal dari sorotan.
Kritik tajam adalah oksigen bagi demokrasi. Dan ketika sorotan itu hadir lewat tawa, ia justru menjadi pengingat paling jujur—bahwa kekuasaan hanyalah mandat, bukan sesuatu yang harus disembah tanpa didebat.
Humor Sebagai Amunisi Literasi
Sejarah Nusantara telah lama mencatat: humor adalah alat edukasi paling ampuh bagi masyarakat yang egaliter. Di tangan yang tepat, intrik politik tingkat tinggi yang rumit dan konsep hukum yang membingungkan didekonstruksi menjadi narasi yang renyah.
"Di tengah kejenuhan atas retorika birokratis yang kaku, komedi adalah cara paling efektif untuk menyelundupkan kesadaran sipil."
Inilah pencapaian literasi politik yang luar biasa. Melalui "Mens Rea", kita diajak menyelami nalar kritis tanpa perlu merasa terintimidasi. Kita diajak tertawa pada kenyataan, sembari menyadari bahwa kita punya hak untuk tidak sekadar diam.
Ujung Namun Bukan Akhir
Sebab demokrasi tidak butuh masyarakat yang selalu tunduk ketakutan.
Demokrasi butuh warga yang sanggup berpikir, tertawa, lalu bertindak.
Karena pada akhirnya, sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak takut ditertawakan oleh rakyatnya sendiri.

Komentar
Posting Komentar