Tahun Baru, Hati yang Lebih Lapang

 


Tahun Baru, Hati yang Lebih Lapang: Mengapa Kita Tak Harus Kuat Sendirian

Oleh: Abdulloh Aup 

​Tahun 2026. Angka-angka di kalender telah berganti, namun sering kali, beban yang kita bawa dari tahun sebelumnya masih terasa. Kita melangkah ke dalam babak baru ini dengan membawa serta luka-luka yang belum sepenuhnya sembuh—luka bersama, mungkin dari kehilangan, kekecewaan, atau kegagalan yang pahit. Namun, bersamaan dengan itu, ada secercah harapan yang bahkan belum sempat kita beri nama, sebuah janji samar akan hari esok yang lebih baik.

​Di awal tahun ini, di tengah riuhnya resolusi dan daftar tujuan, ada satu pelajaran fundamental yang kembali mengetuk hati kita: tidak semua perjalanan harus kita pikul sendirian.

​Berapa sering kita memaksakan diri untuk tampil kuat, seolah mengakui kelelahan adalah sebuah kelemahan? Kita sering percaya bahwa keberanian berarti menghadapi segala badai seorang diri. Padahal, justru dalam mengakui kerapuhan kitalah, kekuatan sejati ditemukan.

​Di sela-sela letih yang mendalam dan keraguan yang membayangi langkah, selalu ada tempat untuk bersandar. Tempat itu bisa beragam:

  • Doa yang lirih, sebuah bisikan hati yang kita panjatkan ketika kata-kata lain tak lagi sanggup diucapkan, memberikan kita ketenangan yang melampaui pemahaman.
  • Orang-orang yang setia, mereka yang tetap berada di sisi kita, bukan karena apa yang bisa kita berikan, melainkan karena mereka percaya pada esensi diri kita. Pelukan, telinga yang mendengarkan, atau sekadar kehadiran mereka adalah jangkar di tengah badai.
  • ​Atau bahkan, keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa hidup, dengan segala pasang surutnya, tak pernah benar-benar meninggalkan kita sendirian. Bahwa ada kekuatan lebih besar yang menuntun, meski kadang tak terlihat.

​Maka, kita melangkahkan kaki ke tahun 2026 dengan hati yang sedikit lebih lapang, sedikit lebih ringan. Kita belajar untuk bersyukur atas apa pun yang bertahan, baik itu secuil kebahagiaan, secercah harapan, atau kehadiran orang-orang terkasih. Kita mengikhlaskan apa yang telah pergi, memahami bahwa beberapa perpisahan adalah bagian dari pertumbuhan yang tak terelakkan.

​Dan yang terpenting, kita melangkah dengan optimisme yang mendalam: bahwa selama hati kita tahu ke mana harus bersandar—pada iman, pada cinta, pada harapan—kita akan selalu menemukan jalan pulang. Jalan pulang menuju kedamaian, menuju kekuatan batin, dan menuju diri kita yang paling utuh.

​Selamat datang, 2026. Mari kita jalani bersama.

Komentar

Postingan Populer