Bukan Sekadar Perut Kenyang Hari Ini
Prolog
Di setiap meja makan rakyat, bukan hanya piring yang perlu terisi,
Ada pula harapan yang menanti, tentang hari esok yang takkan sepi.
Ketika janji-janji manis hanya membungkus perut tanpa memberi arti,
Kita bertanya, ke mana arah bangsa ini akan pergi?
Mari kita duduk sejenak, merenungi prioritas yang sesungguhnya tak boleh mati.
Bukan Sekadar Perut Kenyang Hari Ini: Rakyat Butuh Pekerjaan, Bukan Sekuadar Suapan
Seringkali, perdebatan tentang kesejahteraan rakyat hanya berputar pada satu poin: bagaimana memastikan semua orang bisa makan hari ini. Tentu, pangan adalah kebutuhan dasar yang tak terbantahkan. Namun, kita harus melihat lebih jauh. Rakyat itu bukan cuma butuh makan hari ini, tapi juga butuh pekerjaan yang layak untuk hidup besok, untuk membangun masa depan.
Jika negara lebih sibuk mengurus perut yang lapar dengan bantuan instan, namun lupa membuka keran lapangan pekerjaan, maka masalah tidak akan pernah selesai. Ini seperti mengobati gejala tanpa menyentuh akarnya. Orang yang lapar justru butuh martabat, butuh kesempatan untuk bekerja, bukan disuapi terus-menerus tanpa ada visi masa depan yang jelas. Mereka butuh alat pancing, bukan hanya ikan di hari itu.
Hilangnya Kepercayaan, Stagnasi Bangsa
Ketika prioritas negara salah arah—terlalu fokus pada solusi jangka pendek dan mengabaikan investasi jangka panjang seperti penciptaan lapangan kerja—maka dampaknya akan meluas. Kepercayaan rakyat, yang menjadi modal sosial paling berharga, akan terkikis. Investor, baik domestik maupun asing, akan kehilangan minat karena melihat ketidakpastian dan kurangnya visi strategis.
Alhasil, roda ekonomi menjadi mandek, pekerjaan tidak tersedia, dan negara pun hanya berputar di situ-situ saja, terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan ketergantungan.
Pendidikan, Kunci Masa Depan yang Lebih Cerah
Mari kita bayangkan sebuah pilihan sederhana: jika semua anak ditanya, apakah mereka mau makan gratis hari ini atau pendidikan gratis sampai S1? Saya yakin, sebagian besar akan menjawab pendidikan gratis sampai S1. Mengapa? Karena mereka memahami bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang, tiket menuju kemandirian, dan kunci untuk membuka pintu kesempatan yang lebih luas di masa depan.
Pendidikan tidak hanya mengisi kepala, tapi juga membentuk karakter, membangun keterampilan, dan melahirkan inovasi. Ia adalah jembatan menuju pekerjaan yang layak, dan fondasi bagi bangsa yang berdaya.
Harapan pada Pemimpin yang Bijak
Di tengah tantangan ini, harapan besar tertumpu pada negara dan para pemimpinnya. Semoga mereka lebih bijak dalam menentukan arah, tidak lagi mengedepankan koalisi bagi-bagi jabatan yang hanya menguntungkan segelintir elite. Lebih dari itu, semoga tidak ada lagi upaya untuk memposisikan semua keluarga di negeri ini sebagai dinasti, yang hanya akan mengikis meritokrasi dan melahirkan oligarki.
Prioritas harus kembali pada kesejahteraan rakyat secara menyeluruh, yang dimulai dari kesempatan kerja, akses pendidikan berkualitas, dan pemerintahan yang bersih serta akuntabel. Hanya dengan begitu, kita bisa membangun masa depan yang cerah dan berkelanjutan untuk semua.
Endgame
Bukan hanya roti yang mengenyangkan, tapi juga mimpi yang harus dikawal.
Pekerjaan adalah martabat, pendidikan adalah bekal untuk merajut harapan.
Jangan biarkan kekuasaan membutakan, atau ambisi memecah persatuan.
Semoga para pemimpin memegang amanah, demi bangsa yang bermartabat dan berkemajuan.
Sebab masa depan bangsa, ada di tangan mereka yang berani melangkah dengan kebijaksanaan.
Abdulloh Aup

Komentar
Posting Komentar