Membaca sebagai Perlawanan di Tengah Reruntuhan Gaza
Prolog
Di bawah langit yang terus dirundung pilu, debu-debu kehancuran beterbangan,
Sekolah rubuh, perpustakaan membisu, seolah ilmu ingin dihilangkan.
Namun dari sisa puing yang beku, sebuah tekad bangkit melakukan perlawanan,
Sebab peluru bisa menghancurkan gedung, tapi takkan mampu membunuh pemikiran.
Mari kita belajar dari Gaza, tentang Phoenix yang lahir dari abu penderitaan.
Phoenix Library: Membaca sebagai Perlawanan di Tengah Reruntuhan Gaza
Gaza bukan hanya tentang statistik konflik yang menyayat hati. Di balik gedung-gedung yang runtuh, perpustakaan yang hancur, dan pusat budaya yang kini hanya tinggal puing, ada sebuah peperangan lain yang sedang diperjuangkan: perang melawan kegelapan literasi.
Ketika sektor pendidikan lumpuh dan akses terhadap buku seolah "dirampas" oleh situasi selama dua tahun terakhir, seorang pria bernama Omar Hamad memutuskan untuk tidak tinggal diam. Omar, yang menjalani peran ganda sebagai penulis, penjahit, sekaligus apoteker, menginisiasi lahirnya Phoenix Library. Nama "Phoenix" sendiri bukanlah kebetulan; ia melambangkan burung mitologis yang bangkit kembali dari abunya—sebuah metafora sempurna bagi semangat literasi di Gaza.
Membangkitkan Budaya yang "Dirampas"
Bagi Omar, mendirikan perpustakaan ini adalah sebuah panggilan jiwa. Ia menyaksikan bagaimana anak-anak dan warga setempat kehilangan ruang untuk belajar dan bertumbuh secara intelektual. Kehancuran infrastruktur pendidikan bukan hanya soal tembok yang retak, tapi soal masa depan yang terancam buta huruf dan hampa pengetahuan.
Tantangan yang dihadapi Omar tidaklah main-main:
- Ekonomi yang Tercekik: Harga bahan bangunan melonjak tajam, membuat impian membangun gedung terasa mustahil.
- Kelangkaan Literatur: Harga buku dan kertas ikut meroket, menjadikan buku sebagai barang mewah di tengah krisis.
- Logistik yang Berbahaya: Mendapatkan dan mendistribusikan buku di tengah konflik adalah pertaruhan nyawa.
Namun, tekad Omar lebih keras dari beton yang hancur. Dalam sebuah momentum yang luar biasa, ia dan timnya berhasil membeli serta mencetak sekitar 700 buku dalam satu hari. Tak hanya itu, Omar sendiri yang terjun langsung mengantarkan buku-buku tersebut, memastikan setiap lembar ilmu sampai ke tangan yang haus akan pengetahuan.
Lebih dari Sekadar Rak Buku
Phoenix Library kini menjadi mercusuar bagi warga setempat. Koleksinya mencakup spektrum pengetahuan yang luas: mulai dari literatur keislaman, penguatan bahasa Arab, ensiklopedia puisi Arab yang kaya, hingga novel-novel yang memberikan ruang bagi imajinasi untuk terbang melewati tembok-tembok isolasi.
Inisiatif ini membuktikan bahwa literasi adalah senjata. Dengan membaca, anak-anak Gaza tetap memiliki jendela untuk melihat dunia. Dengan buku, warga setempat tetap memiliki martabat untuk terus berpikir jernih di tengah kekacauan.
Omar Hamad telah mengajarkan kita bahwa meski kegelapan menyelimuti, kita bisa memilih untuk menjadi pemantik cahaya. Phoenix Library adalah bukti bahwa selama masih ada orang yang mau membaca dan berbagi, harapan tidak akan pernah bisa dikubur.
Endgame
Satu buku adalah satu peluru untuk menembus dinding kebodohan,
Satu halaman adalah satu langkah menuju fajar kemerdekaan.
Terima kasih Omar, atas Phoenix yang kau bangun dengan penuh ketulusan,
Mengingatkan dunia bahwa literasi adalah nafas dari sebuah perjuangan.
Semoga dari balik reruntuhan, lahir generasi emas yang membawa perubahan.
Abdulloh Aup

Komentar
Posting Komentar