​Netralitas dalam Ketidakadilan

 


Prolog

Dalam riuhnya dunia, suara keadilan seringkali terbungkam,

Oleh mereka yang memilih diam, saat nestapa datang.

Bukan tak tahu, bukan tak lihat, namun enggan melangkah,

Mengira netral adalah pilihan, padahal itu menyerah.

Ubie hadir membongkar makna, dari kata-kata yang menusuk nurani,

Mengutip Desmond Tutu, tentang keberanian yang harus abadi.

​Netralitas dalam Ketidakadilan: Sebuah Pilihan Berpihak kepada Penindas

​Di tengah berbagai gejolak dan isu ketidakadilan yang tak henti menguji kemanusiaan, seringkali kita dihadapkan pada pilihan: untuk bersuara, bertindak, atau hanya diam membisu. Ada sebagian dari kita yang mungkin merasa, bahwa dengan tidak memihak, kita telah mengambil posisi "netral". Namun, seorang tokoh besar peraih Nobel Perdamaian, Desmond Tutu, dengan tegas menyanggah ilusi netralitas tersebut.

​Ia berujar, sebuah kalimat yang menggema kuat dan menusuk relung hati:

"Jika kamu netral dalam situasi ketidakadilan, maka kamu telah memilih berada di pihak yang menindas."

​Kalimat ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah analisis moral yang tajam dan akurat tentang konsekuensi dari sikap pasif.

​Analisis Akurat: Mengapa Netralitas Adalah Keberpihakan

  1. Ketidakseimbangan Kekuatan: Dalam situasi ketidakadilan, selalu ada ketidakseimbangan kekuatan antara pihak yang menindas dan pihak yang tertindas. Pihak penindas memiliki kekuatan, sumber daya, atau pengaruh yang lebih besar, yang memungkinkan mereka melakukan penindasan.
  2. Keuntungan bagi Penindas: Ketika seseorang memilih netral, mereka secara efektif tidak menantang status quo yang menguntungkan penindas. Diamnya kita tidak menghentikan penindasan; sebaliknya, itu memberi ruang bagi penindas untuk terus beraksi tanpa hambatan atau konsekuensi. Netralitas menjadi semacam "izin diam" bagi penindasan.
  3. Pengabaian Penderitaan Korban: Netralitas juga berarti mengabaikan penderitaan pihak yang tertindas. Dengan tidak bersuara atau bertindak, kita secara tidak langsung menafikan validitas perjuangan mereka, seolah-olah penderitaan mereka tidak cukup penting untuk kita pedulikan.
  4. Erosi Moral: Sikap netralitas dalam ketidakadilan secara perlahan mengikis standar moral masyarakat. Jika semua orang memilih diam, maka batas antara benar dan salah akan kabur, dan ketidakadilan akan menjadi norma yang diterima.

​Implikasi dalam Kehidupan Sehari-hari

​Pandangan Desmond Tutu ini tidak hanya relevan dalam konteks politik atau konflik besar, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari kita:

  • Lingkungan Sosial: Ketika kita menyaksikan bullying di sekolah, diskriminasi di tempat kerja, atau ketidaksetaraan di masyarakat, memilih untuk "tidak ikut campur" sebenarnya adalah memilih untuk membiarkan ketidakadilan itu berlanjut.
  • Hak Asasi Manusia: Dalam isu-isu hak asasi manusia, netralitas sama dengan menyetujui pelanggaran hak.
  • Pendidikan: Seorang pendidik yang netral terhadap praktik diskriminatif di kelas atau sekolah, secara tidak langsung mendukung terjadinya diskriminasi tersebut.

​Desmond Tutu mengajak kita untuk memiliki keberanian moral. Ia menuntut kita untuk mengakui bahwa dalam menghadapi ketidakadilan, tidak ada tempat untuk netralitas sejati. Setiap individu, dengan pilihan untuk bersuara atau diam, telah mengambil sebuah posisi. Dan jika posisi itu adalah diam, maka ia telah secara implisit berpihak pada pihak yang diuntungkan oleh ketidakadilan—pihak penindas.

Endgame

Diam bukanlah emas, jika itu berarti membiarkan yang lemah merana.

Netralitas yang kau sangka bijak, adalah belati yang menikam sang papa.

Maka bangkitlah, wahai jiwa yang masih punya nurani,

Sebab keadilan takkan datang, tanpa keberanian yang berani.

Berpihaklah pada yang benar, agar dunia tak lagi dirajam nestapa.

Abdulloh Aup

Komentar

Postingan Populer