Dukungan Palestina untuk Kemerdekaan RI 1944

 


Prolog

Sejarah bukan sekadar deretan angka tahun, ia adalah saksi bisu tentang siapa yang berdiri di samping kita saat dunia memilih untuk abai.

Ada sebuah utang budi yang tertulis rapi dalam catatan waktu, namun anehnya, hari ini coba dihapus oleh mereka yang silau akan narasi baru.

Mari kita buka kembali lembaran tahun 1944, saat suara dukungan pertama kali bergema dari tanah yang kini masih berjuang demi kemerdekaannya sendiri.

Gunakan akal, tenangkan nurani, karena fakta sejarah tak butuh persetujuan kebencianmu untuk tetap menjadi kebenaran.

​Fakta yang Tak Terbantahkan: Dukungan Palestina untuk Kemerdekaan RI 1944

​Di tengah hiruk pikuk perdebatan modern, ada satu realita yang sering kali coba dibelokkan: dukungan rakyat Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia pada tahun 1944. Ini bukan hoax, bukan klaim menyesatkan, apalagi sekadar dongeng pengantar tidur. Ini adalah sejarah yang tercatat dengan tinta emas, meskipun kini ada sebagian dari kita yang justru merasa "gerah" mendengarnya.

​Suara dari Radio Berlin

​Pada tanggal 6 September 1944, di saat dunia masih disibukkan oleh Perang Dunia II dan nasib Indonesia masih dalam cengkeraman penjajah, sebuah suara lantang terdengar melalui radio di Berlin. Tokoh paling berpengaruh saat itu, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, Mufti Besar Yerusalem, memberikan pernyataan resmi: Atas nama rakyat Palestina, mereka mendukung penuh kemerdekaan Indonesia.

​Beliau tidak hanya bicara. Mufti Besar langsung melobi negara-negara di Liga Arab untuk ikut mengakui dan mendukung Indonesia. Saat itu, hampir tidak ada negara yang peduli dengan nasib kita, namun Palestina—lewat tokoh utamanya—berdiri paling depan.

​Logika "Negara Belum Ada" yang Menggelikan

​"Tapi kan negara Palestina saat itu belum ada?" Begitu biasanya sanggahan yang muncul dengan nada "jejeritan".

​Mari gunakan akal sehat. Memang, secara administratif negara Palestina belum merdeka sepenuhnya hingga hari ini. Namun, apakah itu menghapus fakta bahwa tokoh paling penting yang mewakili rakyatnya telah menyatakan dukungan?

​Ingatlah, Soekarno pun pernah diasingkan ke mana-mana, namun semua orang tahu beliau adalah Proklamator yang bicara mewakili bangsa Indonesia. Begitu juga dengan Mufti Besar; status beliau di pengasingan Jerman tidak mengurangi keabsahan suaranya sebagai representasi nurani rakyat Palestina.

​Ironi Solidaritas: Antara Nurani dan Kebencian

​Sungguh menyedihkan melihat sebagian rakyat Indonesia yang hari ini menikmati manisnya kemerdekaan, namun justru berpaling dari nilai-nilai kemanusiaan. Bukannya berterima kasih dan menghormati sejarah, kalian malah mendukung pihak yang sejak 1947 justru melakukan penjajahan yang sama kejamnya di tanah Palestina.

​Kebencian kalian terhadap fakta sejarah ini sering kali berakar dari keberpihakan yang buta. Kalian menuduh orang lain "mabuk agama", padahal mungkin kalianlah yang sedang terbelenggu oleh perintah atau narasi tokoh tertentu hingga tega menanam kebencian tiada tara kepada sesama manusia.

​Sejarah tidak akan berubah hanya karena kalian melakukan "kayang nungging" untuk menyangkalnya. Palestina telah memberikan solidaritas terbaiknya di saat kita bukan siapa-siapa di mata dunia.

Endgame

Kebenaran sejarah tidak butuh pembelaan, ia hanya butuh keberanian untuk diakui.

Jangan biarkan kebencian hari ini membutakan mata kita atas jasa mereka di masa lalu.

Belajarlah berlapang dada, sebab menghargai sejarah adalah tanda bangsa yang punya harga diri.

Terima kasih Palestina, untuk suara lantangmu di tahun 1944 yang takkan pernah kami lupakan.

Abdulloh Aup

Komentar

Postingan Populer