​The Power of Kepepet Belajar dari Resiliensi Iran

 


Prolog

Ada sebuah ironi yang menyesakkan dada ketika kita bicara tentang kedaulatan.

Di satu sisi, ada bangsa yang dikunci dari luar, namun justru menemukan kunci kemandirian dari dalam.

Di sisi lain, ada bangsa yang pintunya terbuka lebar, namun kekayaannya justru dikuras oleh "tamu tak diundang" yang bekerja sama dengan penjaga rumahnya sendiri.

Apakah penderitaan harus menjadi bahan bakar, atau justru menjadi abu yang menyapu harapan?

Mari kita bedah realita pahit antara daya lenting sebuah bangsa yang dihimpit, dengan kerapuhan sebuah negeri yang dikelola dengan kerakusan.

​The Power of Kepepet: Belajar dari Resiliensi Iran

​Iran adalah anomali yang luar biasa dalam peta kekuatan global. Selama 47 tahun, mereka dihujam embargo, dikucilkan secara diplomatik, dan ditekan habis-habisan oleh sanksi Amerika Serikat. Namun, hukum alam bekerja di sana: Tekanan yang kuat menghasilkan lentingan yang jauh.

​Dari himpitan itu, Iran bangkit dengan nuklir mandiri, teknologi drone Shahed yang mengguncang dunia, satelit Noor, hingga kemandirian medis saat pandemi. Mereka membuktikan bahwa ketika sebuah bangsa ditekan dari luar, mereka akan mengonsolidasi kekuatan ke dalam. Ideologi yang solid, Garda Revolusi (IRGC) yang tangguh, dan ekonomi non-minyak yang tumbuh menjadi bukti bahwa "kepepet" adalah awal dari sebuah kebangkitan.

​Indonesia: Surga yang Dikelola "Pelarian Neraka"

​Sekarang, mari kita menoleh ke tanah air kita sendiri—negeri yang sering disebut sebagai serpihan surga. Kita punya segalanya: nikel terbesar dunia, emas Freeport yang menjulang, gas Natuna, hingga minyak Rokan. Namun, ironinya, kekayaan ini dikelola oleh mentalitas yang eksponensial rakusnya—pejabat yang seolah "pelarian dari neraka".

​Gaya kepemimpinan yang asal bal geduwal, embuh suwal, embuh bantal, kabeh karepe diuntal (semua ingin ditelan) telah menyandera masa depan kita. Kontrak-kontrak asing yang membelenggu hingga puluhan tahun ke depan menjadikan bumi kita "tanah air baru" bagi korporasi global. Akibatnya? Rakyat hanya mendapat getah: inflasi yang mencekik, subsidi yang jebol, dan kemiskinan struktural. Sejak 1998, rakyat kita seolah berjalan autopilot—bertahan hidup sendiri sambil terus menyetor pajak untuk membiayai kemewahan elite.

​Perbedaan Tekanan: Luar vs Dalam

​Perbandingannya sangat kontras dan menyakitkan:

  • Iran dihimpit dari LUAR —> menjadi KUAT.
  • Indonesia dihimpit dari DALAM —> menjadi LEMAH.

​Saat ini, kita melihat kesibukan konsolidasi kekuasaan untuk Pilpres 2029 mulai membayangi program-program kerakyatan. Program strategis seperti Makan Bergizi Gratis jangan sampai hanya menjadi proyek "mesin uang" atau bancakan kroni yang hasilnya nol besar bagi rakyat. Ini bukan "kepepet" yang membuat kita melenting seperti pir, melainkan "kepepet" yang membuat kita ambruk dan terpuruk.

​Saatnya Mawas Diri secara Radikal

​Sudah saatnya ada koreksi total. Diplomasi kita jangan sampai hanya menjadi pion kepentingan Barat atau Israel dalam rebutan minyak global. Kita harus belajar dari keberanian Iran dalam melakukan nasionalisasi SDA dan mengembangkan teknologi domestik.

​Prioritas kita harus kembali ke nilai gotong royong dan kedaulatan, bukan konsumerisme Barat yang membuat kita mengalami inferioritas akut—merasa rendah diri dan akhirnya pasrah menjadi budak utang.

Endgame

SDA yang melimpah tidak akan ada artinya jika mentalitas pengelolanya masih bermental "penjarah".

Kita lebih kaya dari Iran, namun kita lebih rapuh karena musuh terbesar kita ada di dalam selimut.

Masih ada waktu untuk melakukan evaluasi radikal sebelum rakyat benar-benar lelah berjalan autopilot.

Bangkit sekarang sebagai pemain utama dunia, atau kita hanya akan menjadi catatan kaki dalam buku sejarah sebagai bangsa yang habis dikunyah oleh bangsanya sendiri.

Abdulloh Aup

Komentar

Postingan Populer