Tragedi MBG di Bulan Puasa

 


Prolog

Membawa nama Tuhan dan sabda Nabi untuk membungkam nalar adalah sebuah keberanian yang berbahaya.

Dalil sering kali dijadikan perisai bagi kebijakan yang pincang, seolah kritik adalah bentuk ketidaktaatan pada agama.

Padahal, Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk menutup mata atas kebatilan yang dibungkus dengan bungkus sedekah.

Mari kita dudukkan perkara ini pada tempatnya: antara adab di meja makan dan tanggung jawab atas amanah publik.

​Membedah "Dalil" Pembungkam: Adab Menjamu vs Amanah Publik

​Belakangan ini, muncul narasi dari sebagian pendukung kebijakan yang menggunakan hadis Nabi ﷺ untuk meredam kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka berkata: "Jangan mencela makanan, Nabi saja tidak pernah mencela makanan." Mereka mengutip hadis tentang akhlak Nabi yang tidak pernah mengumpat hidangan yang disuguhkan kepada beliau.

​Hadis itu shahih, tapi salah alamat.

​1. Adab Tamu vs Audit Publik

​Nabi ﷺ tidak mencela makanan dalam konteks jamuan pribadi. Jika Anda bertamu, lalu tuan rumah sudah bersusah payah memasak, di situlah hadis ini berlaku. Jangan sakiti hati orang yang menjamu Anda. Itu adalah akhlaqul karimah.

​Namun, ketika bicara soal pasar dan kepentingan orang banyak, Nabi ﷺ bertindak berbeda. Ingat kisah Nabi di pasar Madinah? Saat beliau menemukan kurma yang bagian bawahnya basah (busuk) sementara bagian atasnya tampak bagus, beliau tidak diam. Beliau menegur keras: "Siapa yang menipu bukan dari golongan kami!"

​Di sini Nabi melakukan inspeksi. Beliau mengkritik kualitas karena itu menyangkut transaksi publik. Jadi, jika makanan MBG dibiayai dari uang negara (pajak rakyat dan utang), maka mengkritik kualitas, distribusi, dan efektivitasnya bukanlah mencela makanan, melainkan menuntut amanah.

​2. Tragedi MBG di Bulan Puasa: Antara Batal atau Mubazir

​Mari kita bicara logika di bulan Ramadan. Bayangkan anak-anak kita yang sedang belajar puasa, harus berhadapan dengan kotak makanan di atas mejanya sejak jam 9 pagi.

Ada dua kemungkinan pahit yang terjadi:

  • Kemungkinan Pertama: Anak-anak yang lapar akhirnya membatalkan puasanya karena godaan makanan yang ada di depan mata.
  • Kemungkinan Kedua: Mereka bertahan sampai maghrib, tapi saat pulang, mereka lebih memilih masakan ibu yang hangat daripada kotak MBG yang sudah dingin dan dimasak sejak subuh. Akhirnya? Mubazir.

​Data dari peneliti CELIOS menyebutkan potensi kerugian negara mencapai Rp622 miliar hingga Rp1,27 triliun per minggu akibat makanan yang terbuang sia-sia. Apakah mengkritik pemborosan triliunan rupiah ini disebut menyalahi Sunnah? Justru membiarkan kemubaziran itulah yang dilarang agama!

​3. Salah Kaprah Tafsir Surah Quraisy

​Ada juga yang membawa-bawa Surah Quraisy ayat 4: "Dan Dia (Allah) yang memberi mereka makan dari lapar..." sebagai legitimasi program ini.

​Ini adalah pelintiran logika yang fatal. Ayat tersebut sedang menjelaskan Nikmat Allah kepada kaum Quraisy, agar mereka menyembah Tuhan pemilik Ka'bah (Rabbahadzal bait). Subjeknya adalah Allah.

​Jika ayat ini dipakai untuk menjustifikasi program MBG agar rakyat tidak mengkritik, apakah kita sedang diarahkan untuk menyembah "CEO" atau pembuat program tersebut? Tentu tidak. Menyamakan kebijakan manusia yang penuh celah dengan karunia Tuhan adalah bentuk overclaim yang sangat tidak sehat.

Endgame

Agama hadir untuk mencerahkan, bukan untuk menidurkan nalar kritis.

Mengkritik kebijakan publik yang menggunakan uang rakyat adalah bagian dari amar ma'ruf nahi munkar.

Jangan gunakan hadis untuk membela pemborosan, dan jangan gunakan ayat untuk memuja kekuasaan.

Negara harus hadir dengan kecerdasan, bukan sekadar bagi-bagi nasi yang berakhir di tempat sampah.

SALAM AKAL SEHAT

Abdulloh Aup

Komentar

Postingan Populer