Nurani Muhammad Ratit Arsya Maulidi
Prolog
Sepucuk surat lahir dari ketulusan hati,
Di tengah hiruk-pikuk janji yang silih berganti.
Bukan perut yang ia tuntut untuk diisi,
Tapi nasib Sang Guru yang ia harap diberi apresiasi.
Kala negara sibuk meramu menu penuh gizi,
Seorang siswa SMK tegak berdiri membawa visi.
Mari kita simak suara dari Kudus yang penuh dedikasi,
Tentang nurani yang lebih tinggi dari sekadar sepiring nasi.
Nurani Muhammad Ratit Arsya Maulidi: Saat Siswa Memilih Mengenyangkan Perut Sang Guru
Dunia pendidikan kita baru saja dikejutkan oleh sebuah aksi viral yang melampaui usia pelakunya. Muhammad Ratit Arsya Maulidi, seorang siswa SMK NU Miftahul Falah di Kabupaten Kudus, secara terbuka mengirimkan surat kepada Presiden Prabowo Subianto. Isinya? Sebuah penolakan yang tak lazim: Ia menolak jatah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk dirinya.
1. Matematika Keberpihakan: Rp6.750.000 untuk Martabat Guru
Arsya tidak sekadar bicara. Ia menghitung dengan logika sederhana namun menohok. Dalam sisa masa belajarnya (18 bulan), jika setiap harinya dialokasikan Rp15.000 untuk makan siangnya, maka akan terkumpul angka Rp6.750.000.
Bagi negara, mungkin itu angka kecil. Bagi sebagian orang, itu hanya jatah makan. Namun bagi Arsya, angka itu adalah "peluru" untuk memperbaiki kesejahteraan gurunya. Ia meminta secara khusus agar dana tersebut dialihkan menjadi tambahan tunjangan bagi para pengajar, terutama guru honorer yang hingga kini masih banyak berjuang di bawah garis kelayakan.
2. Pendidikan Bertumpu pada Dedikasi, Bukan Sekadar Nutrisi
Argumen Arsya sangat tajam dan filosofis bagi seorang siswa SMK. Ia menilai bahwa Indonesia Emas tidak akan terwujud hanya dengan memberi makan fisik, jika "otak" dan "jiwa" pendidikan—yakni para guru—masih dalam kondisi memprihatinkan.
"MBG menurut saya tidak membuat pintar, dan semua berasal dari guru yang baik supaya anak dididik lebih baik," ungkap Arsya.
Ini adalah kritik konstruktif yang lahir dari realitas lapangan. Kemajuan sebuah bangsa bukan hanya soal asupan kalori, melainkan soal bagaimana kita memanusiakan mereka yang mencerdaskan kehidupan bangsa.
3. Sebuah Pesan bagi Pengambil Kebijakan
Aspirasi Arsya adalah alarm bagi pemerintah. Program MBG memang mulia untuk menekan angka stunting dan gizi buruk, namun jangan sampai anggaran raksasa tersebut membuat kita "buta" terhadap jerit kesejahteraan guru yang sudah puluhan tahun tak kunjung tuntas. Kesejahteraan guru adalah investasi hulu; jika hulunya kering, maka hilir (siswa) tetap akan kesulitan mendapatkan kualitas pendidikan terbaik.
Endgame
Siswa SMK mengajar kita tentang sebuah arti,
Bahwa kesejahteraan guru adalah martabat yang sejati.
Jangan sampai perut kenyang namun nalar berhenti,
Sebab guru yang mulia adalah kunci peradaban yang pasti.
Tuhan, dengarlah doa dari nurani yang tulus ini,
Agar keadilan merata di seluruh pelosok negeri.
Mari kita dukung kebijakan yang tak hanya soal konsumsi,
Tapi juga mengangkat derajat pendidik yang penuh bakti.
Abdulloh Aup

Komentar
Posting Komentar