Refleksi Hari Lingkungan Hidup Sedunia
Ketika Hutan Hilang dan Guru Terlupakan: Refleksi Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Tengah Paradoks Pembangunan Indonesia
Oleh: Abdulloh Aup @aupdentata "Guru yang Biasa Saja"
Setiap tanggal 5 Juni, dunia memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day). Di berbagai negara, momentum ini digunakan untuk mengevaluasi kembali hubungan manusia dengan alam. Namun di Indonesia, peringatan lingkungan sering kali berhenti pada seremoni, penanaman bibit simbolis, dan kampanye yang cepat tenggelam dalam hiruk-pikuk politik harian.
Padahal jika kita jujur melihat kenyataan, ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar yang perlu diajukan:
Bagaimana mungkin sebuah bangsa berbicara tentang masa depan generasi emas jika fondasi ekologis tempat generasi itu hidup sedang terus mengalami kerusakan?
Pertanyaan ini penting karena pendidikan dan lingkungan sesungguhnya tidak pernah dapat dipisahkan. Sebagai lulusan Pendidikan Biologi yang kemudian mendalami Administrasi Pendidikan, saya melihat bahwa krisis lingkungan bukan sekadar persoalan ekologi. Ia adalah persoalan pendidikan, kebijakan publik, tata kelola pemerintahan, bahkan persoalan moral sebuah bangsa.
Deforestasi: Ketika Ruang Belajar Terbesar Manusia Perlahan Menghilang
Dalam beberapa dekade terakhir, Sumatera, Kalimantan, dan Papua mengalami perubahan tutupan hutan yang sangat signifikan.
Data berbagai lembaga lingkungan menunjukkan bahwa Indonesia telah kehilangan jutaan hektare hutan primer dalam kurun waktu beberapa puluh tahun terakhir. Sumatera yang dahulu dikenal sebagai rumah bagi harimau, gajah, dan badak kini mengalami fragmentasi habitat yang masif akibat ekspansi perkebunan dan perubahan fungsi lahan.
Kalimantan yang selama berabad-abad menjadi salah satu paru-paru dunia menghadapi tekanan dari pertambangan, pembukaan lahan skala besar, dan pembangunan infrastruktur yang tidak selalu memperhitungkan daya dukung ekologis.
Papua yang selama ini menjadi benteng terakhir hutan tropis Indonesia perlahan menghadapi pola yang sama. Jalan dibuka. Konsesi diperluas. Aktivitas ekonomi meningkat. Dan seperti sejarah yang berulang, hutan kembali menjadi pihak yang paling sering dikorbankan.
Masalahnya bukan sekadar jumlah pohon yang hilang.
Yang hilang adalah sistem kehidupan.
Yang hilang adalah rumah bagi ribuan spesies.
Yang hilang adalah laboratorium alam terbesar yang dimiliki bangsa ini.
Dan yang paling mengkhawatirkan, yang hilang adalah masa depan ekologis generasi berikutnya.
Pendidikan Kita Terlalu Sibuk Mengurus Perut, Tetapi Lupa Menjaga Bumi
Tidak ada yang salah dengan program pemenuhan gizi.
Tidak ada yang salah dengan upaya mengurangi stunting.
Tidak ada yang salah dengan memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan makanan yang layak.
Semua itu penting.
Namun pertanyaan kritisnya adalah:
Mengapa isu lingkungan yang menentukan keberlangsungan hidup jangka panjang sering kali kalah prioritas dibanding program-program yang lebih mudah terlihat secara politik?
Dalam teori administrasi publik, kebijakan yang baik seharusnya tidak hanya menyelesaikan masalah hari ini, tetapi juga mencegah masalah masa depan.
Kita boleh memberi makan anak-anak hari ini.
Tetapi jika sumber air rusak, hutan hilang, tanah kehilangan produktivitasnya, dan bencana ekologis semakin sering terjadi, apa yang akan dimakan generasi itu dua puluh tahun mendatang?
Di sinilah letak paradoks pembangunan Indonesia.
Kita berbicara tentang Generasi Emas 2045.
Tetapi pada saat yang sama, kita sering gagal menjaga fondasi ekologis yang memungkinkan generasi itu hidup secara layak.
Krisis Lingkungan Adalah Krisis Pendidikan
Sebagai akademisi pendidikan, saya melihat bahwa persoalan terbesar bangsa ini bukan hanya kurangnya pengetahuan tentang lingkungan.
Persoalannya adalah kegagalan menghubungkan pendidikan dengan realitas kehidupan.
Anak-anak belajar tentang fotosintesis di sekolah.
Mereka menghafal definisi ekosistem.
Mereka mengerjakan soal pilihan ganda tentang rantai makanan.
Tetapi di luar kelas, mereka menyaksikan sungai tercemar, hutan ditebang, dan ruang hijau semakin sempit.
Pendidikan lingkungan akhirnya berhenti sebagai hafalan.
Bukan sebagai kesadaran.
Padahal menurut UNESCO, pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan (Education for Sustainable Development) harus membentuk kemampuan berpikir kritis, pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, dan kesadaran ekologis yang nyata.
Sayangnya, pendidikan kita masih terlalu sering berorientasi pada ujian daripada kehidupan.
Ketika Alam Memberi Peringatan, Tetapi Kita Menyebutnya Musibah Biasa
Banjir.
Longsor.
Kebakaran hutan.
Kekeringan.
Abrasi pantai.
Suhu yang semakin ekstrem.
Semua itu semakin sering terjadi.
Namun anehnya, kita masih cenderung memperlakukan setiap kejadian sebagai peristiwa yang berdiri sendiri.
Padahal banyak penelitian menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan meningkatkan risiko bencana secara signifikan.
Alam sesungguhnya sedang berbicara.
Tetapi kita lebih sering memilih tidak mendengarnya.
Karena mendengar berarti harus mengubah kebijakan.
Mendengar berarti harus mengevaluasi model pembangunan.
Mendengar berarti harus berani mengakui bahwa ada kesalahan yang perlu diperbaiki.
Dan sering kali, pengakuan seperti itu tidak populer secara politik.
Ketika Pengetahuan Tidak Menjadi Dasar Kebijakan
Salah satu indikator negara maju adalah kemampuan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai fondasi pengambilan keputusan.
Kebijakan publik seharusnya lahir dari data.
Dari penelitian.
Dari kajian ilmiah.
Dari kompetensi.
Bukan semata dari kepentingan jangka pendek.
Karena itu, setiap pernyataan publik yang berkaitan dengan lingkungan seharusnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Dalam dunia pendidikan, kita mengajarkan peserta didik untuk membedakan fakta dan opini.
Maka sudah seharusnya budaya yang sama juga hadir dalam tata kelola pemerintahan.
Sebab ketika ilmu pengetahuan mulai diabaikan, yang lahir bukan kemajuan.
Yang lahir adalah kebijakan yang kehilangan arah.
Guru dan Hutan: Dua Penjaga Masa Depan yang Sering Terlupakan
Ada ironi yang menarik.
Bangsa ini sering berbicara tentang masa depan.
Tetapi dua unsur yang paling menentukan masa depan justru sering kurang mendapatkan perhatian yang proporsional:
guru dan hutan.
Guru menjaga kualitas manusia.
Hutan menjaga kualitas kehidupan.
Jika guru lemah, masa depan intelektual bangsa terancam.
Jika hutan rusak, masa depan ekologis bangsa terancam.
Keduanya tidak menghasilkan keuntungan politik yang instan.
Keduanya membutuhkan investasi jangka panjang.
Dan mungkin karena itulah keduanya sering kalah oleh program-program yang hasilnya lebih mudah dipamerkan.
Padahal sejarah menunjukkan bahwa peradaban besar selalu dibangun oleh pendidikan yang kuat dan lingkungan yang terjaga.
Refleksi Hari Lingkungan Hidup Sedunia
Pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini, mungkin kita perlu berhenti sejenak dari slogan dan seremoni.
Lalu bertanya dengan jujur:
Apakah pembangunan yang kita banggakan hari ini benar-benar sedang mewariskan masa depan yang lebih baik?
Ataukah kita hanya sedang meminjam masa depan anak cucu untuk memenuhi kebutuhan politik dan ekonomi hari ini?
Karena sesungguhnya, kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan pohon yang ditebang.
Ia adalah cermin dari cara sebuah bangsa memandang kehidupan.
Bangsa yang bijak tidak hanya menghitung pertumbuhan ekonomi.
Ia juga menghitung keberlanjutan kehidupan.
Andgame
Generasi Emas 2045 tidak akan lahir hanya karena anak-anak mendapatkan makanan bergizi.
Generasi Emas juga membutuhkan udara yang bersih.
Air yang layak.
Tanah yang subur.
Hutan yang terjaga.
Guru yang dihormati.
Dan kebijakan yang berpihak pada ilmu pengetahuan.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah bangsa bukanlah seberapa banyak sumber daya yang berhasil dieksploitasi.
Melainkan seberapa baik ia menjaga warisan alam dan warisan kemanusiaan untuk generasi yang akan datang.
Dan mungkin, penghormatan terbaik kepada Hari Lingkungan Hidup Sedunia bukanlah pidato tentang alam.
Melainkan keberanian untuk mengubah cara kita memperlakukan alam itu sendiri.

Komentar
Posting Komentar