Banyak Telur yang Berkokok



Banyak Telur yang Berkokok

Ketika Popularitas Mendahului Kedalaman Ilmu

Di era digital, menjadi terkenal jauh lebih mudah daripada menjadi benar-benar berilmu. Seseorang dapat mengumpulkan jutaan pengikut hanya dengan kemampuan berbicara yang meyakinkan, kemasan visual yang menarik, atau bantuan algoritma media sosial. Sayangnya, popularitas sering kali dianggap sebagai ukuran kebenaran, padahal keduanya tidak selalu berjalan beriringan. Tidak semua yang viral lahir dari kedalaman ilmu, sebagaimana tidak semua yang tenang berarti kehilangan cahaya.

Jauh sebelum media sosial menjadi ruang perebutan perhatian publik, Syaikhona Kholil Bangkalan telah meninggalkan sebuah perumpamaan yang begitu tajam sekaligus relevan hingga hari ini: "banyak telur yang berkokok." Perumpamaan ini sederhana, tetapi menyimpan kritik yang sangat mendalam. Telur tidak mungkin berkokok karena ia belum menetas, belum tumbuh, dan belum melewati proses yang menjadikannya seekor ayam jantan. Dalam bahasa pendidikan, ia belum belajar, tetapi sudah merasa layak mengajar.

Mbah Kholil kemudian memperjelas makna tamsil tersebut dengan ungkapan yang sangat terkenal: "Tidak mesantren tetapi punya pesantren, tidak ngaji tetapi menjadi da'i." Pesan ini bukanlah sindiran terhadap siapa pun secara pribadi, melainkan pengingat bahwa ilmu memiliki adab, proses, dan sanad. Seseorang tidak menjadi alim hanya karena pandai berbicara, sebagaimana seseorang tidak menjadi dokter hanya karena hafal nama obat. Ada perjalanan panjang yang harus ditempuh, ada guru yang harus dihormati, dan ada proses pembentukan akhlak yang tidak bisa dipercepat oleh popularitas.

Fenomena inilah yang semakin terasa di zaman sekarang. Informasi mengalir begitu deras, tetapi tidak semuanya lahir dari otoritas keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan. Banyak orang lebih tertarik pada potongan video berdurasi satu menit daripada kajian yang dibangun melalui proses belajar bertahun-tahun. Akibatnya, ukuran keilmuan perlahan bergeser dari kedalaman pemahaman menjadi banyaknya pengikut, jumlah tayangan, atau kemampuan menciptakan sensasi. Padahal, ilmu agama bukan sekadar informasi yang dapat dibagikan, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Sebagai seorang pendidik, saya melihat pesan Mbah Kholil tidak hanya relevan dalam dunia dakwah, tetapi juga dalam seluruh bidang kehidupan. Pendidikan mengajarkan bahwa kompetensi lahir dari proses, bukan dari panggung. Seorang guru dihormati karena terus belajar. Seorang ilmuwan dipercaya karena ketekunannya meneliti. Seorang ulama dimuliakan karena keluasan ilmu dan kematangan adabnya. Ketika proses diabaikan, otoritas kehilangan maknanya, dan masyarakat akan kesulitan membedakan antara ilmu yang mencerahkan dengan opini yang hanya terdengar meyakinkan.

Karena itu, menjadi muslim yang cerdas bukan hanya rajin mendengar ceramah, tetapi juga selektif memilih dari siapa ilmu itu diperoleh. Kita perlu bertanya, apakah ia memiliki sanad keilmuan yang jelas? Apakah akhlaknya sejalan dengan ucapannya? Apakah dakwahnya menghadirkan ketenangan, keluasan berpikir, dan kasih sayang, atau justru menumbuhkan kebencian serta merasa paling benar? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang akan menjaga kejernihan ilmu yang kita terima.

Di tengah derasnya arus informasi, mungkin tantangan terbesar bukanlah menemukan orang yang pandai berbicara, melainkan menemukan guru yang benar-benar telah ditempa oleh ilmu, adab, dan perjalanan panjang dalam belajar. Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan suara yang lantang, tetapi juga kebijaksanaan yang lahir dari kerendahan hati.

Mungkin benar apa yang diingatkan Mbah Kholil bertahun-tahun lalu: jangan sampai kita terpukau oleh telur yang berkokok, sementara lupa mencari ayam yang benar-benar lahir dari proses. Sebab ilmu yang berkah tidak tumbuh dari jalan pintas, tetapi dari kesabaran belajar, kejujuran mencari kebenaran, dan adab kepada guru.

"Popularitas dapat mengundang banyak pendengar, tetapi hanya ilmu yang bersanad dan beradab yang mampu menghantarkan manusia kepada kebenaran."

— Abdulloh Aup

Komentar

Postingan Populer