Filosofi Rotan

 


FILOSOFI ROTAN

Literasi Mengajarkan Kita untuk Tidak Berhenti Mengenal Dunia

Ada sebuah pertanyaan sederhana yang belakangan ini mengusik pikiran saya.

Berapa banyak dari kita yang pernah duduk di kursi rotan?

Mungkin hampir semuanya.

Namun, berapa banyak yang pernah melihat buah rotan?

Jawabannya mungkin tidak sebanyak yang kita bayangkan.

Di sinilah saya menyadari bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca buku. Literasi adalah kemampuan untuk terus menemukan sesuatu yang selama ini berada sangat dekat dengan kita, tetapi belum pernah benar-benar kita kenali.

Rotan adalah contoh yang menarik.

Selama bertahun-tahun kita mengenalnya sebagai bahan kursi, meja, keranjang, atau anyaman yang menghiasi rumah-rumah di Indonesia. Kita mengagumi hasil akhirnya, tetapi jarang bertanya tentang asal-usulnya.

Ketika akhirnya saya melihat buah rotan, saya merasa seperti sedang membuka halaman baru dari sebuah buku yang selama ini belum pernah saya baca.

Ternyata ia bersisik seperti salak.

Warnanya berubah dari putih krem, kuning, hingga jingga ketika matang.

Begitu indah.

Begitu unik.

Dan selama ini hampir tidak pernah saya perhatikan.


Bukankah kehidupan juga seperti itu?

Banyak hal yang tampak biasa karena kita berhenti bertanya.

Padahal setiap pertanyaan adalah pintu menuju pengetahuan baru.

Literasi sejatinya bukan tentang banyaknya buku yang selesai dibaca, melainkan tentang rasa ingin tahu yang terus tumbuh.

Orang yang literat akan selalu melihat dunia dengan mata yang berbeda.

Ia tidak hanya melihat kursi rotan.

Ia akan bertanya dari mana rotan berasal.

Bagaimana ia tumbuh.

Mengapa buahnya bersisik.

Apa manfaatnya bagi ekosistem.

Dan pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat seseorang terus berkembang.


Di KOMPAK TERBANG, kami percaya bahwa budaya literasi harus dimulai dari rasa ingin tahu.

Membaca adalah langkah awal.

Mengamati adalah langkah berikutnya.

Lalu lahirlah diskusi, refleksi, dan akhirnya pemahaman.

Literasi bukan sekadar aktivitas di perpustakaan.

Ia hidup di kebun.

Di sawah.

Di hutan.

Di pasar.

Bahkan pada sebutir buah rotan yang selama ini mungkin luput dari perhatian kita.


Bangsa yang gemar membaca akan memiliki pengetahuan.

Namun bangsa yang gemar bertanya akan melahirkan inovasi.

Karena itu, mari kita terus membangun budaya literasi yang tidak berhenti pada teks, tetapi juga mampu membaca alam, membaca kehidupan, dan membaca makna di balik setiap peristiwa.

Sebab dunia selalu menyimpan pelajaran baru bagi mereka yang tidak pernah berhenti ingin tahu.

"Literasi bukan hanya membaca buku, tetapi juga membaca semesta. Semakin banyak kita mengenali ciptaan Tuhan, semakin luas cara kita memandang kehidupan."

— Abdulloh Aup | KOMPAK TERBANG



Komentar

Postingan Populer