Guru yang Berhenti Belajar, Perlahan Berhenti Menginspirasi
Guru yang Berhenti Belajar, Perlahan Berhenti Menginspirasi
Memaknai Hari Belajar Guru sebagai Budaya, Bukan Sekadar Jadwal
Ada satu kenyataan yang sering kita lupakan.
Ketika murid diwajibkan belajar setiap hari, siapa yang memastikan guru juga terus belajar?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan setelah terbitnya Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 5684/MDM.B1/HK.04.00/2025 tentang Hari Belajar Guru, yang mendorong adanya satu hari belajar guru dalam satu minggu sebagai bagian dari Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB).
Bagi saya, surat edaran ini bukan sekadar kebijakan administratif.
Ia adalah sebuah pengingat.
Bahwa guru juga seorang pembelajar.
Selama ini kita begitu sibuk membicarakan bagaimana murid harus belajar aktif.
Bagaimana pembelajaran harus bermakna.
Bagaimana kelas harus inovatif.
Namun kita jarang bertanya,
"Apakah guru masih memiliki ruang untuk bertumbuh?"
Karena kenyataannya, banyak guru menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengajar, menyusun administrasi, melakukan penilaian, menghadiri rapat, hingga menyelesaikan berbagai tugas lainnya.
Kesempatan untuk belajar bersama sering kali menjadi sesuatu yang mewah.
Padahal perubahan dunia tidak pernah menunggu.
Ilmu pengetahuan berkembang.
Teknologi bergerak.
Karakter peserta didik berubah.
Tantangan pendidikan semakin kompleks.
Jika guru berhenti belajar, bagaimana mungkin pendidikan mampu terus melangkah maju?
Surat edaran ini mengingatkan kembali bahwa guru merupakan ujung tombak pendidikan yang memiliki kewajiban mengembangkan kompetensinya secara berkelanjutan seiring perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Pengembangan tersebut tidak hanya melalui pelatihan formal, tetapi juga melalui kelompok belajar yang dilakukan secara terstruktur dan terjadwal.
Kalimat itu sederhana.
Namun maknanya sangat dalam.
Belajar ternyata bukan kegiatan tambahan bagi guru.
Belajar adalah bagian dari profesinya.
Yang menarik, kebijakan ini tidak meminta guru belajar sendirian.
Justru yang ditekankan adalah semangat kolektif dan kolegial.
Belajar bersama.
Berdiskusi bersama.
Merefleksikan praktik pembelajaran bersama.
Karena sesungguhnya, ilmu tidak hanya lahir dari buku.
Ia juga tumbuh dari percakapan.
Dari pengalaman.
Dari kegagalan yang dibagikan.
Dan dari keberanian untuk saling belajar.
Sebagai seorang guru, saya merasakan bahwa ruang-ruang seperti KKG, MGMP, KKKS, maupun MKKS seharusnya bukan hanya menjadi tempat memenuhi agenda.
Ia harus menjadi ruang bertumbuh.
Ruang di mana guru tidak takut mengatakan,
"Saya belum tahu."
Karena dari kalimat itulah pembelajaran dimulai.
Guru yang hebat bukanlah guru yang merasa mengetahui segalanya.
Guru yang hebat adalah guru yang tetap rendah hati untuk terus belajar.
Saya juga menyukai semangat yang diusung dalam surat edaran ini.
Belajar guru tidak boleh mengganggu proses belajar mengajar.
Karena itu, diperlukan penjadwalan satu hari belajar setiap minggu yang disepakati bersama melalui forum profesi, dengan dukungan pembiayaan yang dapat berasal dari dana operasional pendidikan sesuai ketentuan yang berlaku.
Menurut saya, ini menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi guru tidak cukup hanya menjadi slogan.
Ia perlu didukung oleh sistem.
Sebab budaya belajar tidak lahir hanya dari niat baik.
Budaya belajar tumbuh ketika waktu, ruang, dan dukungan benar-benar disediakan.
Namun demikian, saya juga percaya bahwa keberhasilan kebijakan ini tidak akan ditentukan oleh banyaknya pertemuan.
Bukan pula oleh jumlah sertifikat yang diperoleh.
Keberhasilannya akan terlihat ketika hasil belajar itu masuk ke dalam kelas.
Ketika guru pulang dari forum belajar dengan satu ide baru.
Satu metode baru.
Satu semangat baru.
Lalu murid-murid merasakan manfaatnya.
Karena ukuran belajar bukan seberapa sering kita berkumpul.
Melainkan seberapa besar perubahan yang kita hadirkan.
Saya membayangkan jika setiap minggu guru benar-benar memiliki ruang untuk belajar.
Bukan sekadar mendengarkan materi.
Tetapi saling menginspirasi.
Saling mengkritisi praktik pembelajaran.
Saling berbagi keberhasilan.
Saling menguatkan ketika mengalami kesulitan.
Bukankah sekolah akan menjadi organisasi pembelajar yang sesungguhnya?
Dan bukankah murid akan tumbuh lebih baik jika diajar oleh guru yang juga senang belajar?
Bagi saya, Hari Belajar Guru bukanlah tentang menambah satu hari kegiatan.
Ia adalah tentang mengubah cara pandang.
Bahwa guru bukan hanya pengajar.
Guru adalah pembelajar sepanjang hayat.
Karena pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak pernah melampaui kualitas gurunya.
Dan kualitas guru tidak pernah berhenti tumbuh selama ia tetap mau belajar.
"Guru yang hebat bukanlah guru yang merasa paling tahu. Guru yang hebat adalah mereka yang setiap minggu masih menyediakan ruang untuk belajar, berefleksi, dan bertumbuh. Sebab murid tidak hanya belajar dari apa yang diajarkan gurunya, tetapi juga dari semangat gurunya untuk terus belajar."
— Abdulloh Aup

Komentar
Posting Komentar