Ketika Bajaj Mengantar Mimpi

 


Ketika Bajaj Mengantar Mimpi: Pendidikan Berkualitas Harus Dapat Diakses oleh Semua Anak Bangsa

Oleh: Abdulloh
Komunitas Penggerak Literasi Bangkalan (KOMPAK TERBANG)

Pendidikan selalu diyakini sebagai jalan paling mulia untuk mengubah masa depan. Namun, bagi sebagian keluarga, perjalanan menuju pendidikan yang lebih baik sering kali dimulai dengan perjuangan yang tidak sederhana. Kisah Basuni Yusuf, seorang sopir bajaj asal Yogyakarta yang mengantar putranya ke Institut Teknologi Bandung (ITB) menggunakan bajaj selama sekitar 24 jam, menjadi pengingat bahwa di balik setiap keberhasilan seorang anak, selalu ada pengorbanan yang jarang terlihat.

Perjalanan ratusan kilometer itu bukan sekadar perpindahan dari Yogyakarta menuju Bandung. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi simbol tentang betapa besarnya harapan orang tua terhadap masa depan anak-anaknya. Ketika keterbatasan ekonomi membatasi pilihan, cinta dan keteguhan hati justru menemukan jalannya sendiri.

Anak sulung Basuni, Andromeda Sufi Anggoro, berhasil diterima di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Yang menarik, keberhasilan tersebut diraih tanpa mengikuti bimbingan belajar berbayar. Ia memanfaatkan berbagai sumber belajar gratis melalui YouTube, latihan soal, dan tryout daring. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi telah membuka ruang belajar yang semakin luas bagi siapa saja yang memiliki kemauan untuk terus belajar.

Namun, kisah ini juga mengingatkan kita bahwa akses terhadap sumber belajar digital belum sepenuhnya setara. Tidak semua anak memiliki perangkat yang memadai, jaringan internet yang stabil, maupun lingkungan belajar yang kondusif. Teknologi memang mampu membuka peluang, tetapi pemerataan akses dan pendampingan tetap menjadi pekerjaan bersama.

Bagi KOMPAK TERBANG, cerita ini memiliki makna yang lebih dalam. Literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga keberanian untuk terus belajar, kemampuan memanfaatkan berbagai sumber pengetahuan, serta ketangguhan menghadapi keterbatasan. Andromeda memperlihatkan bahwa budaya belajar dapat tumbuh di mana saja selama ada tekad yang kuat. Di sisi lain, Basuni menunjukkan bahwa dukungan orang tua tidak selalu diwujudkan melalui kemampuan finansial, melainkan melalui kehadiran, doa, dan pengorbanan yang tulus.

Kisah tersebut juga memperlihatkan pentingnya ekosistem pendidikan yang saling menguatkan. Setelah mengetahui perjuangan keluarga ini, ITB memberikan bantuan berupa biaya perjalanan, laptop, bantuan biaya hidup, serta keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Langkah tersebut menunjukkan bahwa lembaga pendidikan memiliki peran strategis dalam memastikan mahasiswa dari berbagai latar belakang dapat menyelesaikan pendidikannya dengan baik.

Meski demikian, semangat gotong royong dalam pendidikan tidak boleh berhenti pada satu kisah yang viral. Masih banyak anak-anak Indonesia yang memiliki prestasi akademik tinggi, tetapi terhambat oleh biaya hidup, tempat tinggal, atau kebutuhan belajar lainnya. Mereka membutuhkan sistem yang mampu menjangkau sebelum kesulitannya menjadi perhatian publik.

Sebagai komunitas yang bergerak dalam bidang literasi, KOMPAK TERBANG percaya bahwa setiap anak berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensinya. Pendidikan berkualitas seharusnya tidak ditentukan oleh kondisi ekonomi keluarga, melainkan oleh semangat belajar, kerja keras, dan dukungan lingkungan yang inklusif.

Perjalanan bajaj dari Yogyakarta menuju Bandung mungkin telah berakhir. Namun, pesan yang ditinggalkannya akan terus relevan bagi dunia pendidikan Indonesia. Bahwa mimpi tidak pernah mengenal status sosial, dan setiap anak berhak menatap masa depan setinggi apa pun cita-citanya.

Mari terus menumbuhkan budaya literasi, memperluas akses belajar, dan menguatkan kolaborasi agar semakin banyak anak Indonesia yang dapat melangkah menuju masa depan tanpa harus terhalang oleh keterbatasan. Sebab, ketika pendidikan mampu menjangkau semua anak, sesungguhnya bangsa ini sedang menyiapkan masa depan yang lebih adil, lebih cerdas, dan lebih bermartabat.

"Literasi bukan hanya tentang membuka halaman buku, tetapi juga membuka jalan bagi setiap anak untuk menggapai masa depannya."
— KOMPAK TERBANG

Komentar

Postingan Populer