Refleksi Literasi di Balik Aksi Mahasiswa

 


Ketika Jalanan Ramai, Mengapa Ruang Publik Terasa Sunyi? Refleksi Literasi di Balik Aksi Mahasiswa

Demokrasi selalu menyediakan ruang bagi warga negara untuk menyampaikan pendapat. Di Indonesia, mahasiswa telah lama menjadi bagian penting dari perjalanan demokrasi itu. Dari masa ke masa, suara mahasiswa sering hadir sebagai pengingat bahwa kebijakan publik perlu terus dikawal agar tetap berpihak pada kepentingan masyarakat.

Dalam beberapa hari terakhir, Jakarta kembali menjadi saksi berbagai aksi demonstrasi mahasiswa. Beragam isu disuarakan, mulai dari penegakan hukum, kebijakan pemerintah, hingga persoalan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Aksi berlangsung di sejumlah titik dan kembali dijadwalkan berlanjut dengan melibatkan mahasiswa bersama berbagai elemen masyarakat.

Namun, di tengah ramainya aksi di jalanan, muncul pertanyaan yang banyak diperbincangkan publik. Mengapa gaung demonstrasi kali ini terasa tidak begitu dominan di halaman depan surat kabar maupun menjadi sorotan utama televisi nasional? Padahal, di media sosial, dokumentasi aksi, diskusi, dan berbagai sudut pandang justru beredar dengan sangat cepat.

Pertanyaan tersebut tentu menarik untuk dikaji secara lebih bijaksana.

Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa media secara sengaja mengabaikan aksi demonstrasi mahasiswa. Dunia jurnalistik bekerja dengan berbagai pertimbangan profesional, mulai dari nilai berita, perkembangan isu nasional maupun internasional, kebijakan redaksi, hingga keterbatasan ruang dan waktu siaran. Dalam era digital, media juga menghadapi perubahan besar karena perhatian publik kini tersebar ke berbagai platform informasi.

Di sisi lain, masyarakat saat ini memperoleh informasi dari sumber yang jauh lebih beragam dibandingkan satu atau dua dekade lalu. Media sosial, kanal video, podcast, hingga siaran langsung dari peserta aksi membuat informasi tidak lagi sepenuhnya bergantung pada media arus utama. Akibatnya, persepsi mengenai "besar atau kecilnya" sebuah pemberitaan sering kali dipengaruhi oleh platform yang digunakan masing-masing orang.

Di sinilah literasi menjadi sangat penting.

Literasi bukan sekadar kemampuan membaca berita, tetapi juga kemampuan memahami bagaimana informasi diproduksi, dipilih, disebarkan, dan diterima oleh masyarakat. Ketika sebuah isu tidak menjadi berita utama di satu media, bukan berarti isu tersebut tidak ada. Sebaliknya, ketika sebuah isu ramai di media sosial, bukan berarti seluruh informasi yang beredar telah melalui proses verifikasi yang memadai.

Sebagai komunitas literasi, KOMPAK TERBANG memandang bahwa masyarakat perlu membangun budaya berpikir kritis sebelum mengambil kesimpulan. Pertanyaan-pertanyaan seperti "Mengapa tidak banyak diberitakan?" atau "Mengapa isu ini lebih ramai di media sosial daripada televisi?" merupakan pertanyaan yang layak didiskusikan. Namun, jawaban atas pertanyaan tersebut hendaknya dicari melalui berbagai sumber informasi yang kredibel, bukan hanya berdasarkan potongan video atau unggahan yang muncul di linimasa.

Mahasiswa memiliki hak konstitusional untuk menyampaikan aspirasi secara damai sesuai ketentuan yang berlaku. Media memiliki independensi redaksional dalam menentukan prioritas pemberitaan. Masyarakat pun memiliki tanggung jawab untuk menyikapi semua informasi secara kritis dan proporsional. Ketiga unsur tersebut merupakan bagian dari ekosistem demokrasi yang saling melengkapi.

Pada akhirnya, yang perlu terus kita rawat bukan hanya kebebasan menyampaikan pendapat, tetapi juga kebebasan berpikir yang disertai tanggung jawab. Sebab demokrasi yang sehat lahir dari warga negara yang mampu berdialog, menghargai perbedaan, serta mengedepankan data dan nalar dalam memahami setiap peristiwa.

KOMPAK TERBANG percaya bahwa literasi tidak hanya mengajarkan kita untuk membaca teks, tetapi juga membaca realitas. Ketika jalanan ramai oleh aspirasi dan ruang digital dipenuhi berbagai narasi, tugas kita bukan sekadar memilih siapa yang benar atau salah, melainkan terus belajar memahami persoalan secara utuh, kritis, dan bijaksana.

"Literasi tidak mengajak kita cepat mengambil kesimpulan. Literasi mengajak kita sabar mencari pemahaman."KOMPAK TERBANG

Komentar