Tiga Guru Bangkalan Bertumbuh Bersama



Ketika Tiga Guru Bangkalan Bertumbuh Bersama: Literasi Guru sebagai Awal Pembelajaran Bermakna

"Perubahan besar di ruang kelas hampir selalu diawali oleh perubahan kecil di ruang belajar guru."

Di balik setiap peserta didik yang gemar membaca, berpikir kritis, dan berani berkarya, selalu ada guru yang lebih dahulu menyalakan api literasi dalam dirinya. Sebab budaya literasi tidak lahir dari instruksi, melainkan dari keteladanan. Ia tumbuh dari guru yang terus belajar, terus membaca, terus berdialog, dan terus membuka diri terhadap pengalaman serta gagasan baru.

Inilah keyakinan yang terus dirawat oleh KOMPAK TERBANG (Komunitas Penggerak Literasi Bangkalan). Bagi kami, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi adalah keberanian untuk terus belajar, merefleksikan pengalaman, dan mengubah pengetahuan menjadi praktik baik yang memberi manfaat bagi sesama. Karena itulah, sebelum menumbuhkan literasi murid, kita perlu terlebih dahulu menumbuhkan literasi guru.

Semangat tersebut tercermin dalam Check Point Implementasi Project Based Learning (PjBL) Wardah Inspiring Teacher (WIT) Gen 8 yang diselenggarakan di SD Muhammadiyah 1 Pucanganom, Kabupaten Sidoarjo, pada 19 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi ruang belajar yang mempertemukan guru-guru dari berbagai daerah di Jawa Timur untuk berbagi praktik baik, merefleksikan implementasi pembelajaran berbasis proyek, sekaligus memperkuat komitmen menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna.

Sebuah kebanggaan bagi Kabupaten Bangkalan karena tiga guru mendapat kesempatan menjadi bagian dari perjalanan belajar tersebut. Mereka adalah:

  • Abdulloh — Guru IPA UPTD SMP Negeri 1 Blega.

  • Fauzia Rahmi — Guru SMK Negeri 1 Labang.

  • Ni'matuzzahro, S.Pd., Gr. — Guru SMP I Adabiyah Labang.

Tiga guru.

Tiga sekolah.

Tiga ruang kelas yang berbeda.

Namun membawa satu keyakinan yang sama: guru yang bertumbuh akan melahirkan murid yang bertumbuh.

Bagi KOMPAK TERBANG, kehadiran mereka bukan sekadar mewakili Kabupaten Bangkalan dalam sebuah kegiatan. Lebih dari itu, mereka membawa semangat bahwa seorang guru tidak pernah selesai belajar. Sebab ketika guru berhenti bertumbuh, pembelajaran perlahan kehilangan daya hidupnya. Sebaliknya, ketika guru terus memperkaya diri, ruang kelas akan selalu menemukan cara baru untuk menghidupkan rasa ingin tahu peserta didik.

Project Based Learning (PjBL) menjadi salah satu ikhtiar untuk mewujudkan hal tersebut. Melalui pembelajaran berbasis proyek, peserta didik tidak hanya diajak memahami konsep, tetapi juga belajar mengamati persoalan, bertanya, berkolaborasi, berpikir kritis, mengambil keputusan, dan menghasilkan solusi yang dekat dengan kehidupan nyata. Pembelajaran tidak lagi berhenti pada hafalan, melainkan menjadi pengalaman yang membentuk karakter.

Namun, pembelajaran yang bermakna tidak pernah lahir begitu saja.

Ia lahir dari guru yang gemar membaca.

Guru yang terbuka terhadap gagasan baru.

Guru yang tidak lelah berdiskusi.

Guru yang berani merefleksikan praktik mengajarnya.

Guru yang memahami bahwa belajar adalah perjalanan seumur hidup.

Di sinilah literasi menemukan makna yang sesungguhnya. Literasi bukan hanya aktivitas membaca buku, tetapi kesediaan untuk terus memperbarui cara berpikir demi menghadirkan pembelajaran yang lebih baik. Guru yang memiliki budaya literasi akan lebih peka terhadap perubahan, lebih reflektif dalam mengambil keputusan, dan lebih bijaksana dalam mendampingi tumbuh kembang peserta didik.

Yang paling membahagiakan dari kegiatan seperti ini bukan hanya materi yang diperoleh, melainkan lahirnya jejaring antarguru yang saling menguatkan. Percakapan sederhana di sela-sela kegiatan, pertukaran pengalaman, hingga diskusi mengenai tantangan pembelajaran menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering kali berawal dari komunitas-komunitas kecil yang memiliki mimpi besar.

KOMPAK TERBANG percaya, pendidikan tidak akan berubah hanya karena kebijakan. Pendidikan akan berubah ketika semakin banyak guru memilih untuk terus belajar, terus berbagi, dan terus bertumbuh bersama. Sebab setiap guru yang bertumbuh akan melahirkan ruang kelas yang bertumbuh. Setiap ruang kelas yang bertumbuh akan melahirkan generasi yang bertumbuh. Dan dari sanalah peradaban perlahan dibangun.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Wardah Inspiring Teacher Gen 8, para fasilitator, panitia, dan seluruh peserta yang telah menghadirkan ekosistem belajar yang hangat, kolaboratif, dan penuh inspirasi. Semoga langkah kecil yang dimulai dari Sidoarjo ini menjadi energi baru bagi para guru untuk terus menyalakan semangat belajar, memperkuat budaya literasi, dan menghadirkan pembelajaran yang semakin bermakna di setiap ruang kelas.

Karena sesungguhnya, perubahan besar tidak selalu dimulai dari ruang-ruang megah. Ia sering lahir dari seorang guru yang pulang membawa satu gagasan baru, menuliskannya menjadi refleksi, membagikannya kepada sesama, lalu menghidupkannya kembali di hadapan murid-muridnya. Dari sanalah literasi menemukan makna terdalamnya: bukan sekadar dibaca, tetapi dihidupi.

"Teruslah bertumbuh tanpa merasa paling tinggi. Sebab ilmu menumbuhkan kecerdasan, tetapi kerendahan hati melahirkan kebijaksanaan."
— Kompak Terbang


Komentar

Postingan Populer