Benarkah Kita Sudah Merdeka
Benarkah Kita Sudah Merdeka?
Ketika Upacara 17 Agustus Mengajarkan Kita tentang Keadilan, Keteladanan, dan Makna Kemerdekaan
“Kemerdekaan bukan tentang siapa yang paling nyaman berdiri di bawah naungan, tetapi tentang apakah semua orang merasakan bahwa dirinya dihargai sebagai manusia.”
— Abdulloh Aup
Setiap bulan Agustus, suasana Indonesia berubah.
Bendera merah putih mulai menghiasi jalan. Lagu-lagu perjuangan kembali terdengar. Sekolah sibuk menyiapkan berbagai perlombaan. Pemerintah mempersiapkan upacara. Masyarakat bersiap merayakan hari yang selalu kita sebut sebagai hari kemerdekaan.
17 Agustus.
Sebuah tanggal yang tidak sekadar angka dalam kalender.
Ia adalah ingatan tentang perjuangan. Tentang pengorbanan. Tentang darah dan air mata. Tentang orang-orang yang mungkin tidak pernah menikmati kemerdekaan, tetapi memilih berjuang agar generasi setelahnya dapat menghirup udara kebebasan.
Namun, setiap kali melihat pelaksanaan upacara kemerdekaan, saya sering bertanya dalam hati:
Sudahkah cara kita merayakan kemerdekaan benar-benar mencerminkan semangat kemerdekaan itu sendiri?
Pertanyaan ini mungkin sederhana.
Tetapi terkadang pertanyaan sederhana justru membutuhkan keberanian untuk menjawabnya.
Ketika yang Berdiri Kepanasan dan yang Duduk Justru Berteduh
Coba kita lihat sebuah upacara 17 Agustus.
Peserta upacara berdiri berbaris. Anak-anak sekolah berdiri tegak. Guru berdiri. Petugas berdiri. Masyarakat berdiri.
Mereka menunggu.
Matahari semakin tinggi.
Keringat mulai membasahi wajah.
Sebagian mungkin mulai merasa pusing. Sebagian anak mungkin sudah kehilangan konsentrasi. Tetapi mereka tetap diminta berdiri dengan sikap sempurna demi menghormati upacara.
Sementara itu, di tempat lain...
Ada kursi.
Ada tenda.
Ada pendingin atau setidaknya tempat yang teduh.
Ada konsumsi.
Ada air minum.
Ada tempat duduk yang nyaman.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa setiap pejabat harus kepanasan.
Bukan itu persoalannya.
Persoalannya adalah pesan yang sedang kita ajarkan.
Sebab sebuah upacara bukan hanya tentang barisan, protokol, dan penghormatan kepada bendera.
Upacara juga merupakan pendidikan publik.
Dan setiap pendidikan selalu menyampaikan pesan, bahkan ketika tidak ada satu kata pun yang diucapkan.
Ketika rakyat diminta berdiri di bawah matahari sementara sebagian pemimpinnya duduk nyaman di bawah tenda, apa yang sedang dipelajari oleh anak-anak?
Apakah mereka sedang belajar tentang persamaan?
Atau justru sedang belajar bahwa dalam sebuah perayaan kemerdekaan, ada yang harus berdiri dan ada yang berhak nyaman?
Di sinilah saya merasa kita perlu berhenti sebentar.
Bukan untuk menyalahkan.
Tetapi untuk bercermin.
Kemerdekaan Seharusnya Membuat Kita Merasa Setara
Para pendiri bangsa tidak memperjuangkan kemerdekaan agar masyarakat Indonesia sekadar memiliki upacara yang megah.
Mereka memperjuangkan sebuah bangsa di mana manusia tidak lagi diperlakukan berdasarkan kelas dan kedudukannya.
Karena itu, kemerdekaan seharusnya menghadirkan rasa:
“Saya dihargai.”
Bukan:
“Saya hanya menjadi pelengkap acara.”
Seorang siswa yang berdiri di lapangan adalah manusia.
Guru yang mendampingi adalah manusia.
Petugas upacara adalah manusia.
Masyarakat yang datang adalah manusia.
Pejabat yang hadir juga manusia.
Maka tidak ada salahnya jika sebuah upacara kemerdekaan dirancang dengan prinsip yang sederhana:
Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula kesediaannya untuk memberikan contoh.
Bukan justru semakin besar fasilitas yang memisahkannya dari rakyat.
Lalu, Haruskah Konsep Upacara 17 Agustus Diubah?
Menurut saya: iya, kita perlu berani mengevaluasinya.
Bukan berarti upacara harus dihapus.
Bukan pula berarti tradisi harus dibuang.
Justru sebaliknya.
Kita perlu mengembalikan upacara kepada makna terdalamnya.
Upacara tetap bisa khidmat.
Tetap bisa sakral.
Tetap bisa menghormati perjuangan para pahlawan.
Tetapi pada saat yang sama, kita dapat membuatnya lebih manusiawi.
Bayangkan jika konsepnya sedikit berubah.
Peserta tidak harus berdiri terlalu lama di bawah terik matahari hanya demi memenuhi protokol.
Durasi dibuat lebih efektif.
Tenda atau tempat teduh bukan hanya untuk kelompok tertentu, tetapi dipikirkan berdasarkan kebutuhan: anak-anak, lansia, peserta yang memiliki kondisi khusus, petugas, dan masyarakat.
Air minum tersedia secara layak.
Konsumsi tidak menjadi simbol perbedaan kelas.
Pejabat tidak hanya datang sebagai tamu kehormatan.
Mereka ikut berdiri bersama rakyat ketika memang memungkinkan.
Jika harus duduk karena alasan protokol atau kesehatan, tidak masalah.
Tetapi jangan sampai fasilitas tersebut menciptakan jarak sosial yang terasa begitu nyata.
Sebab seorang pemimpin tidak kehilangan wibawanya hanya karena duduk bersama rakyat.
Justru sering kali wibawa lahir ketika seseorang bersedia berada di tengah-tengah mereka yang dipimpinnya.
Bagaimana Jika Setelah Upacara Kita Benar-Benar Merayakan Kemerdekaan?
Saya justru tidak anti terhadap hiburan.
Setelah upacara selesai, silakan bernyanyi.
Silakan berjoget.
Silakan tertawa.
Silakan menikmati makanan.
Silakan merayakan kemenangan sebagai sebuah bangsa.
Bukankah kemerdekaan memang layak dirayakan?
Tetapi ada satu hal yang perlu kita pastikan:
jangan sampai kegembiraan sebagian orang dibangun di atas ketidaknyamanan sebagian yang lain.
Dan jangan sampai pesta kemerdekaan hanya menjadi panggung bagi mereka yang memiliki akses.
Kemerdekaan seharusnya menjadi pesta bersama.
Anak-anak ikut bahagia.
Guru ikut bahagia.
Petani ikut bahagia.
Nelayan ikut bahagia.
Pedagang kecil ikut merasakan manfaatnya.
Masyarakat desa merasakan hadirnya negara.
Dan mereka yang selama ini bekerja dalam diam juga mendapatkan penghargaan.
Bagaimana Kalau Upacara 17 Agustus Menjadi Ruang Pembelajaran?
Saya membayangkan upacara kemerdekaan bukan sekadar kegiatan seremonial.
Ia bisa menjadi ruang pendidikan karakter kebangsaan.
Anak-anak tidak hanya diminta berdiri tegak.
Mereka diajak memahami:
Mengapa kita merdeka?
Siapa yang memperjuangkan kemerdekaan?
Apa arti merdeka bagi seorang anak?
Apa arti merdeka bagi keluarga miskin?
Apa arti merdeka bagi guru?
Apa arti merdeka bagi petani dan nelayan?
Dan yang paling penting: apa tanggung jawab kita setelah merdeka?
Dengan begitu, merah putih tidak berhenti sebagai warna bendera.
Ia menjadi nilai.
Upacara tidak berhenti sebagai barisan.
Ia menjadi refleksi.
Lagu kebangsaan tidak berhenti sebagai nyanyian.
Ia menjadi kesadaran.
Merdeka Bukan Berarti Bebas Melakukan Apa Saja
Ada satu hal yang sering kita lupakan.
Kemerdekaan bukan sekadar kebebasan.
Kemerdekaan juga merupakan tanggung jawab.
Kita merdeka untuk belajar.
Merdeka untuk berpikir.
Merdeka untuk berkarya.
Merdeka untuk menyampaikan pendapat dengan bertanggung jawab.
Merdeka untuk mendapatkan pelayanan yang layak.
Merdeka untuk hidup bermartabat.
Dan bagi mereka yang diberi amanah memimpin, kemerdekaan juga berarti merdeka dari keinginan untuk dilayani secara berlebihan.
Sebab jabatan bukan tiket untuk mendapatkan jarak dari rakyat.
Jabatan adalah amanah untuk semakin dekat dengan rakyat.
Mungkin Kita Tidak Perlu Mengubah Semuanya
Saya tidak sedang menawarkan konsep yang sempurna.
Saya hanya ingin mengajak kita bertanya.
Ketika kita akan menggelar upacara 17 Agustus tahun ini, mungkin sesekali kita bertanya:
“Apakah anak-anak kita merasa dihormati?”
“Apakah masyarakat merasa dilibatkan?”
“Apakah petugas merasa diperhatikan?”
“Apakah penggunaan anggaran benar-benar memberikan manfaat?”
“Apakah pemimpin telah memberikan keteladanan?”
Dan pertanyaan yang paling penting:
“Apakah setelah mengikuti upacara ini, seseorang pulang dengan perasaan bahwa dirinya benar-benar bagian dari bangsa yang merdeka?”
Jika jawabannya iya, pertahankan.
Jika belum, perbaiki.
Karena tradisi bukan berarti sesuatu yang tidak boleh berubah.
Tradisi harus tetap hidup dengan makna yang relevan dengan zamannya.
Jadi, Setuju Lanjut atau Buat Konsep Baru?
Saya memilih:
Lanjut merayakan kemerdekaan.
Tetapi berani memperbaiki cara kita merayakannya.
Bukan untuk menghilangkan kekhidmatan.
Bukan untuk mengurangi penghormatan.
Bukan untuk merendahkan pejabat.
Tetapi untuk menghadirkan sesuatu yang jauh lebih penting:
rasa keadilan.
Mari kita bayangkan sebuah upacara 17 Agustus di mana pejabat, guru, siswa, dan masyarakat hadir bukan sebagai kelas-kelas yang berbeda, tetapi sebagai warga negara yang sama-sama memiliki Indonesia.
Tidak ada yang merasa menjadi penonton.
Tidak ada yang merasa hanya sebagai pelengkap.
Tidak ada yang merasa kemerdekaan hanya milik mereka yang memiliki jabatan.
Karena merah putih adalah milik kita semua.
Dan mungkin, pada saat itulah anak-anak kita akan memahami satu pelajaran yang tidak akan mereka temukan hanya dari buku sejarah:
Kemerdekaan bukan sekadar ketika penjajah pergi. Kemerdekaan adalah ketika setiap manusia merasa dihargai, didengar, dilindungi, dan diperlakukan dengan bermartabat.
Maka kalau konsep upacara 17 Agustus ingin kita lanjutkan, mari lanjutkan dengan hati yang lebih merdeka.
Bukan sekadar berdiri bersama di bawah bendera.
Tetapi merasa setara di bawah merah putih yang sama.
Sebab Indonesia yang merdeka bukan hanya membutuhkan warga yang mampu menghormati bendera.
Indonesia juga membutuhkan pemimpin yang mampu menghormati rakyat.
Selamat menyambut 17 Agustus.
Dirgahayu Republik Indonesia.
Merdeka! 🇮🇩
— Abdulloh Aup, “Guru yang Biasa Saja”

Komentar
Posting Komentar