Dekatkan Dulu Bukunya

 



Sebelum Menyalahkan Masyarakat Malas Membaca, Dekatkan Dulu Bukunya

Pelajaran Literasi dari Seoul yang Layak Dicoba Indonesia

Mudah sekali mengajak orang membaca di atas selembar poster. Tinggal menulis kalimat-kalimat seperti "Buku adalah jendela dunia" atau "Membaca membuka cakrawala." Masalahnya, slogan tidak pernah benar-benar membuat seseorang jatuh cinta pada buku. Orang membaca bukan karena diperintah, melainkan karena lingkungan membuat kegiatan itu terasa mudah, nyaman, dan menyenangkan.

Inilah pelajaran menarik yang datang dari Kota Seoul, Korea Selatan. Ketika budaya membaca mulai mengalami penurunan, pemerintahnya tidak sibuk menyalahkan masyarakat yang dianggap terlalu akrab dengan gawai atau media sosial. Mereka justru bertanya, "Bagaimana jika bukunya yang mendatangi masyarakat?" Dari pertanyaan sederhana itu lahirlah Seoul Outdoor Library, sebuah perpustakaan terbuka yang mengubah lapangan kota, kawasan bersejarah, dan tepian sungai menjadi ruang membaca yang hidup.

Bayangkan sebuah lapangan yang biasanya dipenuhi orang berlalu-lalang. Kini, di tempat yang sama, ribuan buku tersusun rapi di antara kursi santai, ruang keluarga, area anak, hingga pertunjukan musik dan kegiatan budaya. Orang tidak datang karena diwajibkan membaca, tetapi karena ruang itu memang menyenangkan untuk dikunjungi. Ketika mereka sudah duduk, menikmati suasana, dan melihat buku berada begitu dekat, rasa penasaran pun perlahan tumbuh. Membaca akhirnya menjadi bagian dari pengalaman, bukan lagi sebuah kewajiban.

Di Seoul Plaza saja tersedia sekitar 5.000 buku yang dapat dinikmati secara gratis. Sementara di Gwanghwamun Square dan kawasan Sungai Cheonggyecheon, masyarakat dapat membaca di tengah ruang publik yang selama ini identik dengan aktivitas perkotaan. Pemerintah tidak sedang membangun perpustakaan baru yang megah, tetapi sedang menghadirkan perpustakaan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Yang menarik, program ini tidak berhenti pada penyediaan buku. Jadwal operasional disesuaikan dengan musim dan kondisi cuaca, koleksi dirawat dengan baik, ruang baca dikelola secara profesional, dan berbagai kegiatan budaya diselenggarakan agar masyarakat betah berlama-lama. Mereka memahami bahwa literasi bukan hanya soal buku, tetapi juga soal pengalaman yang menyenangkan ketika berinteraksi dengan buku.

Hasilnya berbicara sendiri. Jutaan orang telah mengunjungi Seoul Outdoor Library sejak pertama kali diluncurkan. Sebagian besar pengunjung benar-benar membaca, bukan sekadar datang untuk berfoto. Tingkat kepuasan masyarakat pun sangat tinggi, bahkan puluhan pemerintah daerah lain di Korea Selatan mulai mengadaptasi konsep serupa. Ini menunjukkan bahwa rendahnya minat baca tidak selalu berarti masyarakat membenci buku. Bisa jadi, selama ini bukunya terlalu jauh, ruang bacanya terlalu kaku, atau aksesnya belum cukup ramah bagi semua kalangan.

Sebagai seorang guru, saya melihat pelajaran yang jauh lebih besar dari sekadar keberhasilan sebuah program. Kita sering meminta masyarakat berubah tanpa lebih dahulu mengubah lingkungannya. Anak-anak diminta gemar membaca, tetapi perpustakaan sekolah kurang terawat. Orang tua diajak meningkatkan literasi, tetapi ruang publik lebih banyak dipenuhi pusat belanja daripada pusat belajar. Kita berharap kebiasaan baik tumbuh di tempat yang belum memberi ruang bagi kebiasaan itu berkembang.

Filosofi Seoul sesungguhnya sangat sederhana. Sebelum meminta masyarakat mendekat kepada buku, pemerintah lebih dahulu mendekatkan buku kepada masyarakat. Pendekatan ini terasa lebih manusiawi karena memahami bahwa perilaku tidak hanya dibentuk oleh kemauan, tetapi juga oleh lingkungan yang mendukungnya.

Indonesia tentu tidak harus meniru Seoul secara utuh. Setiap daerah memiliki karakter, kebutuhan, dan kemampuan anggaran yang berbeda. Namun semangatnya dapat diterapkan di mana saja. Taman kota bisa menjadi ruang baca setiap akhir pekan. Balai desa dapat menghadirkan sudut literasi. Halaman sekolah, car free day, terminal, stasiun, bahkan ruang tunggu pelayanan publik dapat disulap menjadi tempat orang bertemu dengan buku. Tidak selalu dibutuhkan bangunan baru; sering kali yang diperlukan hanyalah cara pandang baru.

Pada akhirnya, membangun budaya literasi bukan hanya tentang menambah jumlah perpustakaan atau memperbanyak slogan membaca. Yang jauh lebih penting adalah menghadirkan ruang-ruang yang membuat masyarakat merasa bahwa membaca adalah bagian alami dari kehidupan mereka. Sebab kebiasaan besar hampir selalu lahir dari pengalaman kecil yang dilakukan berulang kali.

Barangkali pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan lagi, "Mengapa masyarakat kita malas membaca?" Melainkan, "Sudahkah kita menghadirkan buku sedekat mungkin dengan kehidupan mereka?" Karena ketika buku hadir di tengah masyarakat, bukan tidak mungkin masyarakat akan menemukan kembali kebiasaan membaca yang selama ini perlahan menghilang.

"Budaya membaca tidak tumbuh karena banyaknya slogan, tetapi karena lingkungan membuat setiap orang merasa bahwa membuka buku adalah hal yang mudah, dekat, dan menyenangkan. Literasi bukan hanya soal koleksi buku, melainkan tentang menghadirkan pengetahuan di tengah kehidupan."

— Abdulloh Aup

Komentar

Postingan Populer