HASSAN SHADILY
HASSAN SHADILY: ANAK MADURA YANG MENULIS KATA-KATA UNTUK DUNIA
Dari sekolah militer di Tokyo, ruang redaksi, hingga kamus yang menemani jutaan pelajar Indonesia
Ada orang yang dikenang karena pidatonya.
Ada yang dikenang karena jabatan.
Ada yang dikenang karena keberaniannya di medan perang.
Tetapi ada pula orang yang pengaruhnya justru tersembunyi di antara halaman-halaman buku.
Namanya mungkin tidak selalu disebut ketika seorang siswa membuka kamus.
Namun selama puluhan tahun, jutaan orang Indonesia telah berulang kali bertemu dengannya—tanpa benar-benar mengenalnya.
Hassan Shadily.
Seorang putra Madura yang perjalanan hidupnya jauh lebih berliku daripada sekadar menjadi penyusun kamus.
Ia pernah belajar di Jepang pada masa perang, pernah masuk Akademi Militer Tokyo, pernah menjadi wartawan, pernah belajar sosiologi di Amerika Serikat, dan kemudian bertemu seorang linguis bernama John M. Echols.
Pertemuan itulah yang kemudian mengubah arah hidupnya.
Dari sana lahirlah karya yang sangat akrab bagi generasi pelajar Indonesia:
Kamus Inggris-Indonesia dan Kamus Indonesia-Inggris.
Dan yang menarik, perjalanan menuju kamus itu justru tidak dimulai dari cita-cita menjadi leksikograf.
DARI PAMEKASAN, MADURA, MENUJU DUNIA
Hassan Shadily lahir di Pamekasan, Madura, pada 1920. Data resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam buku Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi 2014 mencatat perjalanan pendidikannya dari HIS di Pamekasan, MULO di Malang, hingga MOSVIA di Yogyakarta. (Kemendikdasmen Repository)
Kalau kita melihat perjalanan hidupnya dari belakang, semuanya tampak seperti rangkaian yang sudah dirancang.
Padahal mungkin tidak.
Justru di situlah menariknya.
Pendidikan seseorang tidak selalu berjalan lurus menuju profesi yang kelak membuat namanya dikenang.
Hassan tidak sejak awal berkata:
“Saya kelak akan menjadi ahli perkamusan.”
Bahkan menurut kisah yang berkembang tentang perjalanan hidupnya, ia pernah memiliki keinginan menjadi dokter.
Tetapi hidup ternyata memiliki jalan lain.
Dan jalan itu membawanya ke berbagai ruang yang sangat berbeda.
PERNAH BELAJAR MILITER DI TOKYO
Salah satu bagian paling mengejutkan dari biografinya adalah pengalaman Hassan di Jepang.
Pada 1944, ia berangkat ke Jepang. Ia terlebih dahulu belajar bahasa dan kebudayaan Jepang, kemudian pada masa perang masuk Akademi Militer Tokyo. Sumber Kemendikdasmen mencatat Tokyo International School pada 1944 dan Military Academy Tokyo pada 1945 sebagai bagian dari riwayat pendidikannya. (Kemendikdasmen Repository)
Tirto juga mencatat bahwa ketika situasi perang menyebabkan banyak perguruan tinggi di Tokyo ditutup, Akademi Militer Tokyo menjadi salah satu institusi yang tetap beroperasi dan Hassan kemudian belajar di sana. (tirto.id)
Bayangkan perjalanan seorang pemuda Madura:
Pamekasan → Malang → Yogyakarta → Jepang → Tokyo.
Dan di Tokyo itu, ia berada dalam lingkungan pendidikan militer ketika Perang Dunia II sedang berkecamuk.
Perang kemudian berakhir dengan kekalahan Jepang pada Agustus 1945.
Namun perjalanan Hassan belum selesai.
Ia melanjutkan perjalanan intelektualnya dan kemudian kembali ke Indonesia pada 1947. Setelah itu ia pernah bekerja sebagai wartawan, antara lain di Trompet Masjarakat dan Pelita Rakjat. (tirto.id)
Di sinilah kita melihat sesuatu yang menarik:
pengalaman hidupnya tidak berada dalam satu kotak.
Militer.
Bahasa.
Jurnalistik.
Sosiologi.
Kebudayaan.
Dan akhirnya—
leksikografi.
KETIKA TAKDIR MEMPERTEMUKANNYA DENGAN JOHN ECHOLS
Tahun 1952 menjadi salah satu titik penting dalam kehidupan Hassan.
Ia memperoleh beasiswa dan belajar ilmu sosial di Cornell University, Amerika Serikat, pada 1952–1955. Di Cornell inilah ia bertemu John M. Echols, seorang ahli bahasa yang memiliki perhatian besar terhadap bahasa Indonesia dan studi Asia Tenggara. (tirto.id)
Pertemuan itu tampak sederhana.
Seorang mahasiswa sosiologi bertemu seorang linguis.
Tetapi dari pertemuan tersebut lahirlah salah satu karya kebahasaan paling berpengaruh dalam sejarah pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia.
Echols kemudian mengajak Hassan terlibat dalam proyek penyusunan kamus Indonesia-Inggris.
Masalahnya?
Hassan bukan ahli kamus.
Belum berpengalaman dalam leksikografi.
Tetapi Echols melihat sesuatu yang mungkin lebih penting daripada pengalaman:
kemampuan.
Hassan menguasai bahasa Indonesia dengan baik, mampu berbahasa Inggris, memiliki pengalaman sebagai wartawan, dan memahami konteks sosial-budaya Indonesia.
Kepercayaan itu kemudian menjadi sejarah.
KAMUS YANG LAHIR DARI SEBUAH KOLABORASI
Kamus Indonesia-Inggris pertama kali diterbitkan oleh Cornell University Press pada 1961. Sementara An English-Indonesian Dictionary kemudian terbit pada 1975. (eCommons)
Di Indonesia, karya tersebut kemudian diterbitkan Gramedia dan terus mengalami berbagai cetak ulang serta edisi revisi. Bahkan katalog perpustakaan Indonesia masih mencatat berbagai edisi Kamus Inggris-Indonesia dan Kamus Indonesia-Inggris karya Echols dan Shadily. (Open Library)
Artinya, karya itu bukan sekadar buku yang pernah populer.
Ia menjadi infrastruktur pengetahuan.
Bayangkan seorang siswa pada tahun 1980-an.
Kemudian siswa tahun 1990-an.
Mahasiswa tahun 2000-an.
Guru.
Penerjemah.
Peneliti.
Pelajar bahasa Indonesia di luar negeri.
Mereka mungkin menggunakan buku yang sama, atau edisi yang diperbarui, untuk menemukan arti sebuah kata.
Dan di balik kata itu ada kerja panjang dua manusia yang mungkin tidak pernah mereka kenal.
MENULIS KATA TERNYATA BISA MENULIS SEJARAH
Di sinilah saya kira kisah Hassan Shadily menjadi jauh lebih menarik daripada sekadar kisah seorang penyusun kamus.
Karena kita sering menganggap pekerjaan intelektual sebagai sesuatu yang biasa.
Menulis definisi.
Mencatat istilah.
Menyusun kata.
Membandingkan penggunaan.
Memeriksa makna.
Merevisi.
Mengulang.
Lalu mengulang lagi.
Tidak ada panggung.
Tidak ada sorotan.
Tidak ada tepuk tangan.
Tetapi justru pekerjaan semacam itulah yang sering menjadi fondasi bagi pekerjaan orang lain.
Seorang guru membutuhkan kamus.
Seorang siswa membutuhkan kamus.
Seorang penerjemah membutuhkan kamus.
Seorang peneliti membutuhkan kamus.
Seorang penulis membutuhkan kamus.
Bahkan seseorang yang sedang belajar memahami satu kata dalam bahasa asing pun mungkin sedang menikmati hasil kerja Hassan tanpa pernah mengetahui siapa Hassan.
Begitulah sebagian besar warisan intelektual bekerja.
Kita menggunakan hasilnya jauh lebih sering daripada kita mengingat nama pembuatnya.
YANG MENARIK: KAMUS ITU TIDAK BERHENTI KETIKA BUKUNYA TERBIT
Kerja Hassan dan Echols ternyata tidak selesai ketika kamus selesai dicetak.
Mereka terus mengumpulkan kata-kata baru dan memperkaya karya tersebut. Setelah Echols meninggal pada 1982, Hassan masih terlibat dalam proses pengembangan dan revisi kamus bersama tim Cornell. ANTARA mencatat bahwa revisi besar Kamus Indonesia-Inggris dilakukan setelah mendapat masukan dari pengguna dan lebih dari separuh bagian kamus mengalami perombakan atau penyesuaian. (Antara Sumbar)
Ini memberi pelajaran penting tentang ilmu pengetahuan:
karya besar tidak selalu selesai ketika diterbitkan.
Pengetahuan hidup.
Bahasa berubah.
Masyarakat berubah.
Teknologi berubah.
Kata-kata baru muncul.
Makna kata dapat bergeser.
Karena itu, kamus pun harus terus dirawat.
Dan mungkin inilah salah satu alasan mengapa karya Hassan dan Echols mampu bertahan begitu lama.
Bukan karena ia membeku dalam sejarah.
Tetapi karena ia terus diperbarui.
DARI KAMUS, KITA BELAJAR TENTANG PENDIDIKAN
Sebagai seorang pendidik, saya justru melihat kisah Hassan Shadily dari sudut yang sedikit berbeda.
Kita sering mengajarkan anak bahwa pendidikan adalah jalan menuju profesi.
Belajar IPA agar menjadi dokter.
Belajar matematika agar menjadi insinyur.
Belajar bahasa agar menjadi penerjemah.
Belajar teknologi agar menjadi programmer.
Tetapi perjalanan Hassan memperlihatkan sesuatu yang lebih luas.
Pendidikan bukan hanya mempersiapkan seseorang untuk sebuah pekerjaan.
Pendidikan mempersiapkan seseorang untuk menghadapi kemungkinan hidup yang bahkan belum ia bayangkan.
Hassan belajar di banyak tempat.
Ia mengalami berbagai lingkungan.
Ia menjadi wartawan.
Ia belajar sosiologi.
Ia pergi ke Jepang.
Ia belajar di Amerika.
Lalu, hampir seperti sebuah kebetulan, ia menemukan dunia leksikografi.
Dan ternyata di sanalah salah satu warisan terbesarnya lahir.
Maka jangan terlalu cepat mengatakan kepada seorang anak:
“Kamu harus menjadi ini.”
Barangkali tugas pendidikan bukan menentukan seluruh masa depan anak.
Tugas pendidikan adalah membekali anak agar ketika kesempatan datang, ia cukup siap untuk mengenalinya.
JANGAN MEREMEHKAN PEKERJAAN YANG TERLIHAT SEDERHANA
Ada pelajaran lain yang menurut saya sangat penting.
Hari ini kita hidup dalam budaya yang menyukai sesuatu yang terlihat besar.
Viral.
Trending.
Millions views.
Penghargaan.
Jabatan.
Followers.
Nama besar.
Tetapi Hassan mengingatkan kita bahwa kontribusi tidak selalu berbentuk sesuatu yang spektakuler.
Kadang kontribusi terbesar adalah:
menyusun kata.
Satu per satu.
Dengan teliti.
Bertahun-tahun.
Tanpa tahu berapa banyak orang yang kelak menggunakannya.
Bukankah pendidikan juga begitu?
Seorang guru mengajarkan satu kata.
Satu konsep.
Satu nilai.
Satu kebiasaan.
Satu pertanyaan.
Satu keberanian untuk berpikir.
Kemudian anak itu tumbuh.
Pergi jauh.
Dan mungkin suatu hari melakukan sesuatu yang bahkan gurunya tidak pernah bayangkan.
Guru mungkin tidak selalu melihat hasil akhirnya.
Tetapi itu tidak berarti pekerjaannya sia-sia.
HASSAN SHADILY DAN PELAJARAN TENTANG JEJAK
Hassan Shadily wafat di Jakarta pada 10 September 2000.
Pada 2014, pemerintah Indonesia menganugerahinya Satyalancana Kebudayaan atas jasanya. (Kemendikdasmen Repository)
Namun mungkin penghargaan paling menarik bukanlah medali.
Melainkan fakta bahwa namanya masih hidup melalui pekerjaan yang terus digunakan.
Itulah bentuk lain dari keabadian seorang intelektual:
ketika pikirannya terus bekerja setelah tubuhnya berhenti.
Setiap kali seseorang membuka kamus.
Setiap kali seorang mahasiswa mencari arti sebuah kata.
Setiap kali seorang guru menjelaskan vocabulary kepada siswanya.
Setiap kali seorang pembelajar bahasa Indonesia dari negara lain mencari padanan kata.
Ada jejak Hassan di sana.
Tidak selalu terlihat.
Tetapi hadir.
MUNGKIN INILAH MAKNA SEBENARNYA DARI “MENJADI BERGUNA”
Kita terlalu sering bertanya:
“Apa yang akan saya dapatkan dari pendidikan?”
Mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apa yang kelak dapat saya berikan kepada orang lain karena pernah mendapatkan pendidikan?”
Hassan Shadily pernah belajar dari banyak tempat dan banyak orang.
Kemudian ia mengembalikan hasil belajarnya kepada masyarakat dalam bentuk pengetahuan.
Bukan sekadar untuk dirinya.
Bukan sekadar untuk keluarganya.
Tetapi untuk generasi yang bahkan belum lahir ketika ia mulai bekerja.
Dan di situlah pendidikan menemukan maknanya.
Ilmu tidak berhenti pada orang yang mempelajarinya.
Ilmu yang baik bergerak.
Dari guru kepada murid.
Dari penulis kepada pembaca.
Dari peneliti kepada masyarakat.
Dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
HASSAN SHADILY: DARI MADURA, UNTUK BAHASA INDONESIA, UNTUK DUNIA
Mungkin kita tidak akan pernah tahu bagaimana persisnya hidup Hassan jika ia menjadi dokter seperti cita-cita awalnya.
Mungkin ia akan memiliki rumah sakit.
Mungkin ia akan menolong pasien.
Mungkin namanya akan dikenang dalam bidang kedokteran.
Tetapi hidup memilih jalan lain.
Ia justru bertemu John M. Echols.
Ia masuk ke dunia kata.
Dan dari sana, lahirlah karya yang membantu manusia memahami bahasa.
Kadang-kadang kita mengira jalan hidup yang berbelok adalah kegagalan.
Padahal bisa jadi justru di tikungan itulah Tuhan mempertemukan kita dengan pekerjaan yang kelak membuat hidup kita berarti bagi banyak orang.
Hassan Shadily memberi kita pelajaran sederhana:
Tidak semua orang harus menemukan masa depannya sejak awal.
Yang penting adalah terus belajar.
Terus berjalan.
Terus membuka kemungkinan.
Sebab pendidikan bukan tentang mengetahui dengan pasti akan menjadi siapa kita.
Pendidikan adalah kemampuan untuk tetap siap ketika kehidupan menunjukkan siapa yang mungkin kita menjadi.
EPILOG
Ada orang yang membangun gedung.
Ada yang membangun jalan.
Ada yang membangun jembatan.
Dan ada yang membangun jembatan antarkata.
Hassan Shadily termasuk yang terakhir.
Ia mungkin tidak selalu hadir dalam buku sejarah populer.
Tetapi namanya tersembunyi di rak-rak perpustakaan, meja belajar, ruang kelas, tas mahasiswa, dan halaman-halaman kamus yang telah menemani banyak generasi.
Dari Madura ia berangkat.
Pernah melewati Tokyo.
Belajar di Cornell.
Bertemu John Echols.
Dan akhirnya meninggalkan sesuatu yang jauh lebih panjang daripada usia manusia:
sebuah warisan kata.
Karena pada akhirnya, manusia boleh pergi.
Tetapi kata-kata yang ia susun dengan ilmu dan ketekunan dapat terus berjalan.
“Kita tidak selalu harus menjadi orang yang paling terkenal. Kadang cukup menjadi orang yang pekerjaannya membuat kehidupan orang lain menjadi sedikit lebih mudah.”
— Abdulloh Aup
Guru yang Biasa Saja ✍️
Catatan sumber: detail biografis utama di atas saya silang dengan sumber Kemendikdasmen, Cornell, ANTARA, dan Tirto. Ada variasi kecil pada tanggal lahir dalam sejumlah sumber; karena itu saya menggunakan tahun 1920 dan riwayat pendidikan yang tercatat dalam sumber resmi Kemendikdasmen. (Kemendikdasmen Repository)

Komentar
Posting Komentar