Ketika Buku Menemukan Rumah
Ketika Buku Menemukan Rumah: Menitipkan Gagasan untuk Menyalakan Literasi Bangkalan
Sebuah langkah kecil tiga penulis untuk memperkaya ruang pengetahuan di Perpustakaan Kabupaten Bangkalan
Bangkalan, 17 September 2026 — Literasi tidak selalu harus dimulai dari gerakan besar. Kadang, ia tumbuh dari kebiasaan sederhana: membaca sebuah buku, menuliskan gagasan, menerbitkan karya, lalu dengan ikhlas menitipkannya agar dapat dibaca oleh orang lain.
Semangat itulah yang membawa Abdulloh, Yophie Adhi Sasmita, dan Sri Astutik pada sebuah langkah sederhana namun bermakna. Pada Kamis, 17 September 2026, ketiganya berkesempatan menyerahkan dan menghibahkan karya buku kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bangkalan (DISPUSIP Kabupaten Bangkalan).
Bagi KOMPAK TERBANG (Komunitas Penggerak Literasi Bangkalan), peristiwa ini dapat dimaknai sebagai salah satu bentuk nyata bagaimana budaya literasi dibangun: bukan hanya dengan mengajak masyarakat membaca, tetapi juga dengan menghadirkan karya yang dapat dibaca.
Tiga Buku, Tiga Jejak Gagasan
Tiga karya yang dihibahkan merupakan buku-buku yang berangkat dari pemikiran dan praktik di bidang pendidikan.
Ketiganya adalah:
Epistemologi Pendidikan Transformatif di Era Postdigital
Filsafat Ilmu Pendidikan: Perspektif Filosofis, Teoritis, dan Praksis
Metodologi dan Pedagogi Transformatif: Pendekatan, Strategi, dan Praktik untuk Pembelajaran Bermakna dan Perubahan Berkelanjutan

Ketiga buku tersebut tidak sekadar menjadi produk penerbitan. Di baliknya terdapat proses panjang berupa membaca, berdiskusi, mengembangkan gagasan, menulis, merevisi, dan menyusun pemikiran menjadi pengetahuan yang dapat dibagikan.
Karena itu, ketika karya tersebut akhirnya berada di perpustakaan daerah, sesungguhnya yang dititipkan bukan hanya benda bernama buku.
Yang dititipkan adalah gagasan.
Gagasan yang diharapkan dapat menemukan pembacanya.
Gagasan yang mungkin menjadi bahan renungan bagi seorang guru, referensi bagi mahasiswa, bahan diskusi bagi pegiat pendidikan, atau bahkan menjadi pemantik bagi seseorang untuk menulis karya berikutnya.
Dari Meja Penulis ke Rak Perpustakaan
Bagi seorang penulis, salah satu fase paling bermakna dari perjalanan sebuah buku adalah ketika buku tersebut meninggalkan ruang pribadi penulisnya.
Ia tidak lagi hanya tersimpan di rumah.
Tidak lagi sekadar menjadi dokumentasi perjalanan intelektual.
Buku kemudian memasuki ruang publik dan membuka kemungkinan baru: dibaca, dipikirkan, didiskusikan, dan dikembangkan kembali.
Inilah makna penting dari hibah buku tersebut.
Ketiga penulis tidak sedang mengatakan bahwa karya mereka telah sempurna. Sebaliknya, karya-karya tersebut merupakan bagian dari perjalanan belajar yang terus berlangsung.
Menulis adalah proses belajar.
Membaca adalah proses belajar.
Dan berbagi karya juga merupakan proses belajar.
Maka, keberadaan tiga buku tersebut di Perpustakaan Kabupaten Bangkalan menjadi sebuah bentuk kecil dari semangat untuk terus membangun ekosistem pengetahuan di daerah.
Diterima di Rumah Pengetahuan Bangkalan
Penyerahan buku dilakukan kepada Bapak M. Ainul Ghufron, S.Sos., M.M., Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bangkalan, didampingi Ibu Cristine Sri Hayati, S.E., M.M., Kabid P3KM Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bangkalan.
Momentum tersebut menjadi semakin bermakna karena berlangsung di tengah hadirnya wajah baru perpustakaan Kabupaten Bangkalan.
Gedung perpustakaan tidak semestinya hanya dipandang sebagai bangunan fisik.
Lebih dari itu, ia merupakan ruang publik tempat pengetahuan bertemu dengan masyarakat.
Di dalamnya terdapat buku, tetapi yang jauh lebih penting adalah peluang lahirnya budaya membaca, ruang bertemunya gagasan, serta kesempatan bagi masyarakat untuk belajar sepanjang hayat.
Karena itu, hadirnya karya-karya lokal di perpustakaan daerah memiliki nilai tersendiri.
Masyarakat tidak hanya membaca pengetahuan dari berbagai tempat, tetapi juga dapat menemukan gagasan yang tumbuh dari lingkungannya sendiri.
Literasi Tidak Berhenti pada Membaca
KOMPAK TERBANG memandang bahwa gerakan literasi memiliki ruang yang luas.
Literasi bukan hanya tentang berapa banyak halaman yang berhasil dibaca.
Literasi juga berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk memahami, berpikir, bertanya, menulis, berkarya, dan berbagi.
Karena itu, budaya membaca perlu berjalan beriringan dengan budaya menulis.
Apa yang dibaca dapat menjadi pengetahuan.
Apa yang dipikirkan dapat menjadi gagasan.
Apa yang ditulis dapat menjadi karya.
Dan apa yang dibagikan dapat menjadi manfaat.
Rangkaian sederhana itulah yang menjadikan sebuah gerakan literasi memiliki kehidupan.
Karya Lokal, Jejak untuk Generasi
Ada kebanggaan tersendiri ketika karya anak daerah dapat menjadi bagian dari koleksi perpustakaan daerahnya.
Bukan karena karya tersebut harus dianggap paling besar atau paling sempurna.
Melainkan karena ia menjadi jejak bahwa masyarakat Bangkalan juga memiliki tradisi membaca, berpikir, menulis, dan berkarya.
Tiga buku tersebut menjadi salah satu contoh kecil bahwa literasi dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk.
Ada yang menggerakkan literasi dengan mengajak anak-anak membaca.
Ada yang mendirikan komunitas.
Ada yang membuat taman baca.
Ada yang menjadi guru dan menumbuhkan budaya literasi di sekolah.
Dan ada pula yang memilih menulis buku sebagai cara untuk menyumbangkan gagasan.
Semua memiliki ruangnya masing-masing.
Menitipkan Gagasan, Menyalakan Kemungkinan
Pada akhirnya, mungkin tidak ada yang dapat memastikan siapa yang kelak membuka buku-buku tersebut.
Mungkin seorang guru.
Mungkin mahasiswa.
Mungkin pelajar.
Mungkin pegiat literasi.
Atau seseorang yang bahkan belum kita kenal.
Namun di situlah indahnya sebuah buku.
Penulis dapat menyelesaikan halaman terakhirnya, tetapi perjalanan gagasannya belum tentu selesai.
Sebab ketika buku berpindah ke tangan pembaca, gagasan itu memperoleh kehidupan baru.
Satu halaman dapat memunculkan pertanyaan.
Satu paragraf dapat melahirkan diskusi.
Satu gagasan dapat menginspirasi karya lain.
Dan satu buku dapat menjadi awal dari perjalanan intelektual seseorang.
Itulah mengapa menitipkan buku di perpustakaan sesungguhnya adalah menitipkan kemungkinan.
Kemungkinan untuk dibaca.
Kemungkinan untuk dipikirkan.
Kemungkinan untuk dikembangkan.
Dan kemungkinan untuk melahirkan karya-karya berikutnya.
Harapan untuk Literasi Bangkalan
KOMPAK TERBANG berharap momentum seperti ini dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang penguatan literasi di Kabupaten Bangkalan.
Semoga Perpustakaan Kabupaten Bangkalan terus tumbuh sebagai ruang publik yang terbuka, inspiratif, dan dekat dengan masyarakat.
Semoga semakin banyak masyarakat Bangkalan yang tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga menjadi penulis dan pencipta pengetahuan.
Dan semoga semakin banyak karya yang lahir dari tanah Bangkalan kemudian kembali kepada masyarakat Bangkalan melalui ruang-ruang literasi yang tersedia.
Sebab membangun literasi bukan pekerjaan satu orang.
Ia membutuhkan komunitas, sekolah, keluarga, pemerintah, penulis, guru, pustakawan, dan masyarakat yang bergerak dalam semangat yang sama.
Membaca untuk mengetahui.
Menulis untuk berbagi.
Berkarya untuk memberi arti.
Tiga penulis telah menitipkan tiga buku.
Mungkin sederhana.
Tetapi dari sebuah buku, kita tidak pernah tahu berapa banyak gagasan yang kelak akan tumbuh.
Dari Bangkalan, gagasan dititipkan.
Dari perpustakaan, gagasan menemukan pembaca.
Dari pembaca, semoga lahir perubahan.
KOMPAK TERBANG
Komunitas Penggerak Literasi Bangkalan
Bergerak bersama, membaca bersama, berkarya untuk menumbuhkan budaya literasi Bangkalan.


Komentar
Posting Komentar