SELAMAT HARI LITERASI INTERNASIONAL 2026
SELAMAT HARI LITERASI INTERNASIONAL 2026
Literasi untuk Manusia, Bumi, dan Kemakmuran
Ada sesuatu yang menarik dari sebuah buku.
Ia hanya terdiri dari kertas dan tinta.
Tetapi dari benda yang tampak sederhana itu, manusia bisa menemukan dunia.
Bisa mengenal tempat yang belum pernah dikunjungi.
Bisa bertemu pemikiran orang yang hidup ratusan tahun lalu.
Bisa memahami penderitaan orang lain.
Bisa mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap biasa.
Bahkan bisa menemukan keberanian untuk mengubah hidupnya sendiri.
Itulah literasi.
Bukan sekadar kemampuan membaca huruf.
Bukan sekadar mampu menulis kalimat.
Dan bukan pula sekadar memiliki banyak buku di rumah.
Literasi adalah kemampuan manusia untuk memahami, menimbang, mempertanyakan, menghubungkan, dan menggunakan informasi untuk mengambil keputusan yang lebih baik.
Hari ini, 8 September 2026, dunia memperingati Hari Literasi Internasional ke-60. UNESCO mencanangkan Hari Literasi Internasional pada 1966, dan peringatannya berlangsung setiap 8 September sejak 1967. Tema 2026 adalah “Literacy for people, the planet and prosperity” — “Literasi untuk manusia, bumi, dan kemakmuran.” (UNESCO)
Enam puluh tahun.
Waktu yang cukup panjang untuk melihat banyak kemajuan.
Tetapi juga cukup panjang untuk menyadari bahwa perjuangan literasi belum selesai.
UNESCO memperkirakan setidaknya 739 juta pemuda dan orang dewasa di dunia masih belum memiliki keterampilan literasi dasar pada 2024. Bahkan sekitar empat dari sepuluh anak belum mencapai kecakapan minimum dalam membaca. (UNESCO)
Angka-angka itu seharusnya tidak hanya membuat kita prihatin.
Ia seharusnya membuat kita bertanya:
Apa sebenarnya yang sedang kita perjuangkan ketika kita berbicara tentang literasi?
LITERASI BUKAN SEKADAR MEMBACA
Kita mungkin bisa membaca sebuah berita.
Tetapi apakah kita memahami isinya?
Kita mungkin bisa membaca judul.
Tetapi apakah kita tahu konteksnya?
Kita mungkin bisa membaca unggahan yang viral.
Tetapi apakah kita tahu apakah informasi itu benar?
Di zaman ketika informasi datang begitu cepat, kemampuan membaca saja tidak cukup.
Kita membutuhkan kemampuan untuk membaca dengan pikiran.
Membaca bukan hanya kata-kata.
Tetapi juga membaca konteks.
Membaca kepentingan.
Membaca data.
Membaca emosi.
Membaca perubahan zaman.
Bahkan membaca sesuatu yang tidak tertulis.
Sebab terkadang yang paling berbahaya bukanlah informasi yang tidak kita miliki.
Melainkan informasi yang kita percaya tanpa pernah kita periksa.
DULU KITA TAKUT TIDAK BISA MEMBACA
Hari ini masalahnya mulai berubah.
Dulu, perjuangan literasi sangat dekat dengan pertanyaan:
“Apakah seseorang bisa membaca dan menulis?”
Sekarang kita juga harus bertanya:
“Apakah seseorang mampu memahami apa yang ia baca?”
Karena seseorang yang mampu membaca tetapi mudah ditipu oleh informasi palsu tetap berada dalam persoalan literasi.
Seseorang yang mampu menulis tetapi tidak mampu membedakan fakta dan opini juga masih membutuhkan literasi.
Seseorang yang memiliki akses internet tetapi tidak mampu menilai informasi yang ditemuinya juga belum sepenuhnya merdeka secara pengetahuan.
Maka literasi abad ke-21 harus semakin luas.
Ia bersentuhan dengan literasi media, informasi, digital, finansial, sains, lingkungan, budaya, bahkan kecerdasan buatan.
UNESCO sendiri menekankan bahwa membaca dan menulis saja tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan zaman digital; manusia juga membutuhkan kemampuan memahami dan mengelola informasi dengan kritis. (UNESCO)
LITERASI ADALAH KEMAMPUAN UNTUK TIDAK MUDAH DIBOHONGI
Ada kalimat sederhana yang menurut saya layak direnungkan:
“Orang yang literat bukan orang yang mengetahui semuanya, tetapi orang yang tahu bagaimana mencari tahu.”
Ia tidak malu berkata:
“Saya belum tahu.”
Tetapi setelah itu ia mencari.
Membaca.
Membandingkan.
Bertanya.
Memeriksa sumber.
Mendengarkan pendapat berbeda.
Kemudian mengambil kesimpulan.
Di situlah literasi menjadi kekuatan.
Karena manusia yang terbiasa berpikir tidak mudah diseret oleh kerumunan.
Tidak mudah percaya hanya karena sesuatu viral.
Tidak mudah membenci hanya karena seseorang menyuruhnya membenci.
Tidak mudah membeli hanya karena iklan mengatakan bahwa ia membutuhkan sesuatu.
Tidak mudah mengikuti pendapat hanya karena mayoritas mengatakannya.
Literasi membuat manusia memiliki jarak antara informasi dan keputusan.
Dan jarak kecil itu sangat penting.
Karena di sanalah akal bekerja.
LITERASI ADALAH BENTUK KEMERDEKAAN
Manusia yang tidak memiliki kemampuan memahami informasi akan lebih mudah dikendalikan oleh orang lain.
Ia bisa diarahkan oleh ketakutan.
Digerakkan oleh rumor.
Dipengaruhi propaganda.
Dibentuk oleh algoritma.
Dan dimanfaatkan oleh mereka yang lebih memahami informasi daripada dirinya.
Karena itu literasi bukan sekadar persoalan pendidikan.
Ia juga persoalan kebebasan manusia.
Semakin seseorang mampu membaca dunia dengan jernih, semakin besar kemungkinan ia mampu menentukan sikapnya sendiri.
Ia tidak harus selalu mengikuti.
Ia dapat memilih.
Ia tidak harus selalu percaya.
Ia dapat memeriksa.
Ia tidak harus selalu menerima.
Ia dapat bertanya.
Dan bertanya bukan tanda kebodohan.
Bertanya adalah salah satu awal dari pengetahuan.
LITERASI UNTUK MANUSIA
Tema tahun ini dimulai dari sesuatu yang paling penting:
manusia.
Sebab teknologi boleh berkembang.
Kecerdasan buatan boleh semakin canggih.
Informasi boleh tersedia dalam hitungan detik.
Tetapi tujuan akhirnya tetap manusia.
Untuk membuat manusia lebih berdaya.
Lebih mampu mengambil keputusan.
Lebih mampu memahami sesamanya.
Lebih mampu memperoleh kesempatan.
Lebih mampu hidup bermartabat.
Karena itu, jangan sampai kita membangun masyarakat yang memiliki akses informasi sangat besar tetapi kehilangan kemampuan untuk berempati.
Jangan sampai kita memiliki generasi yang sangat cepat mencari informasi tetapi sangat lambat memahami manusia.
Jangan sampai kita bisa membaca ribuan komentar tetapi tidak mampu membaca kesedihan seseorang yang duduk di sebelah kita.
Sebab literasi yang paling tinggi bukan hanya kemampuan memahami teks.
Tetapi juga kemampuan memahami kehidupan.
LITERASI UNTUK BUMI
Menarik bahwa tema 2026 tidak hanya berbicara tentang manusia dan kemakmuran.
Ada satu kata penting:
planet.
Ini mengingatkan kita bahwa literasi seharusnya membuat manusia memahami hubungan antara dirinya dan lingkungan.
Membaca bukan hanya untuk mendapatkan pekerjaan.
Belajar bukan hanya untuk mendapatkan gaji.
Pengetahuan juga harus membantu kita memahami:
mengapa hutan perlu dijaga,
mengapa sungai tidak boleh dipenuhi sampah,
mengapa udara bersih penting,
mengapa perubahan iklim membutuhkan tindakan,
dan mengapa kemajuan ekonomi tidak boleh dibangun dengan menghancurkan rumah bagi generasi berikutnya.
Manusia yang literat bukan hanya tahu cara mengambil dari bumi.
Ia juga belajar bagaimana hidup bersama bumi.
UNESCO menempatkan literasi sebagai salah satu fondasi untuk membangun hubungan yang harmonis dengan diri sendiri, sesama manusia, dan planet. (UNESCO)
LITERASI UNTUK KEMAKMURAN
Kemakmuran juga membutuhkan literasi.
Seseorang yang mampu membaca memiliki lebih banyak kesempatan untuk belajar.
Seseorang yang mampu memahami informasi memiliki peluang lebih besar untuk membuat keputusan yang baik.
Seseorang yang memiliki keterampilan dapat meningkatkan kehidupannya.
Karena itu literasi bukan musuh ekonomi.
Justru sebaliknya.
Literasi membuka pintu kesempatan.
Tetapi kita juga harus berhati-hati.
Kemakmuran tidak boleh hanya berarti:
lebih banyak uang,
lebih banyak gedung,
lebih banyak konsumsi,
lebih banyak produksi.
Kemakmuran yang sehat harus berjalan bersama manusia yang berdaya dan bumi yang tetap dapat dihuni.
Itulah mengapa tema “Literasi untuk manusia, bumi, dan kemakmuran” terasa sangat relevan dengan dunia hari ini. UNESCO menempatkan literasi sebagai bagian dari inklusi, keberlanjutan, dan perluasan peluang kehidupan serta pembangunan ekonomi. (UNESCO)
DAN KEMUDIAN KITA BERBICARA TENTANG ANAK-ANAK
Setiap kali seorang anak membuka buku, sebenarnya kita sedang menyaksikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada aktivitas membaca.
Ia sedang membuka kemungkinan.
Mungkin hari ini ia hanya membaca cerita.
Besok ia membaca ilmu pengetahuan.
Lusa ia membaca dunia.
Kemudian ia mulai mempertanyakan sesuatu.
Mencari jawaban.
Membuat gagasan.
Dan suatu hari nanti, mungkin ia yang menciptakan sesuatu yang belum pernah kita bayangkan.
Karena itulah budaya literasi tidak bisa dibangun hanya dengan slogan:
“Ayo membaca!”
Kita membutuhkan lingkungan yang membuat anak ingin membaca.
Perpustakaan yang hidup.
Guru yang menjadi teladan.
Orang tua yang menyediakan ruang untuk bertanya.
Sekolah yang memberi waktu untuk membaca.
Masyarakat yang menghargai pengetahuan.
Dan yang paling penting:
anak tidak boleh dibuat merasa bahwa membaca adalah hukuman.
Membaca seharusnya menjadi pintu menuju rasa ingin tahu.
SEBAB BUKU TIDAK SELALU MEMBERI JAWABAN
Kadang buku justru memberikan pertanyaan.
Dan itu bagus.
Sebab pendidikan yang sehat bukan pendidikan yang membuat anak selalu memiliki jawaban.
Tetapi pendidikan yang membuat anak berani mengatakan:
“Mengapa?”
Mengapa langit seperti itu?
Mengapa manusia berbeda?
Mengapa ada kemiskinan?
Mengapa hutan harus dijaga?
Mengapa informasi ini dipercaya?
Mengapa seseorang bisa memiliki pendapat yang berbeda?
Mengapa sesuatu dianggap benar?
Dari satu pertanyaan lahir pertanyaan berikutnya.
Dari pertanyaan lahir pencarian.
Dari pencarian lahir pengetahuan.
Dan dari pengetahuan lahir kemungkinan perubahan.
Begitulah peradaban bergerak.
PUISI: KETIKA SEBUAH ANAK MEMBACA
Ketika seorang anak membuka buku,
dunia diam-diam membuka pintunya.
Ia belum tahu akan menjadi siapa.
Ia belum tahu akan berjalan ke mana.
Tetapi satu halaman telah memberinya jalan.
Dari satu kata,
lahir sebuah pertanyaan.
Dari satu pertanyaan,
lahir rasa ingin tahu.
Dari rasa ingin tahu,
lahir keberanian.
Dan dari keberanian,
lahir kemungkinan.
Mungkin ia kelak menjadi guru.
Mungkin menjadi ilmuwan.
Mungkin menjaga hutan.
Mungkin menyembuhkan manusia.
Mungkin menciptakan sesuatu
yang belum pernah ada.
Tidak ada yang tahu.
Karena setiap buku yang dibaca anak
adalah pintu menuju masa depan
yang belum kita lihat.
Maka jangan remehkan
satu halaman yang ia baca hari ini.
Barangkali dari sanalah
sebuah masa depan sedang dimulai.
60 TAHUN, DAN PERJUANGAN BELUM SELESAI
Enam puluh tahun Hari Literasi Internasional bukan berarti enam puluh tahun masalah literasi telah selesai.
Justru peringatan ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali:
Seberapa jauh kita telah berjalan?
Dan:
Seberapa jauh lagi kita harus pergi?
UNESCO mencatat bahwa pada 2024 masih terdapat setidaknya 739 juta pemuda dan orang dewasa yang belum memiliki keterampilan literasi dasar. Itu berarti pekerjaan kita belum selesai. (UNESCO)
Masih ada anak yang tidak memiliki buku.
Masih ada orang dewasa yang kesulitan membaca.
Masih ada keluarga yang tidak memiliki akses pendidikan yang layak.
Masih ada masyarakat yang tertinggal oleh perubahan teknologi.
Dan semakin hari, tantangannya berubah.
Dulu kita berjuang agar manusia bisa membaca.
Sekarang kita juga harus memastikan manusia tidak mudah disesatkan oleh apa yang dibacanya.
MARI MEMPERLUAS MAKNA LITERASI
Hari ini mungkin kita sudah bisa membaca.
Tetapi mari belajar membaca lebih dalam.
Membaca buku.
Membaca informasi.
Membaca data.
Membaca zaman.
Membaca lingkungan.
Membaca perasaan orang lain.
Dan yang paling penting:
membaca diri sendiri.
Sebab manusia bisa memiliki pengetahuan yang sangat luas tentang dunia, tetapi tetap tidak memahami dirinya sendiri.
Ia bisa mengetahui banyak hal, tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan pengetahuannya.
Maka literasi sejati bukan sekadar membuat kita lebih banyak tahu.
Literasi seharusnya membuat kita lebih bijaksana dalam menggunakan apa yang kita tahu.
SELAMAT HARI LITERASI INTERNASIONAL 2026
Mari kita rayakan hari ini bukan hanya dengan membuat poster.
Bukan hanya dengan mengunggah ucapan.
Bukan hanya dengan menuliskan:
“Ayo membaca!”
Tetapi dengan benar-benar membuka buku.
Membaca satu halaman.
Mengajukan satu pertanyaan.
Memeriksa satu informasi.
Mengajarkan satu anak.
Membagikan satu pengetahuan.
Menyediakan satu kesempatan.
Karena perubahan besar dalam literasi sering kali tidak dimulai dari sesuatu yang besar.
Ia dimulai dari satu orang yang mau belajar.
Satu guru yang mau mengajar.
Satu orang tua yang mau menemani.
Satu anak yang mau membaca.
Satu masyarakat yang mau membuka ruang bagi pengetahuan.
Dan dari sana, perlahan, sebuah dunia baru bisa tumbuh.
“Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dunia. Ia adalah kemampuan untuk ikut menulis masa depan dunia.”
Selamat Hari Literasi Internasional 2026.
Literasi untuk manusia.
Literasi untuk bumi.
Literasi untuk kemakmuran.
Dan semoga setiap halaman yang kita baca hari ini tidak berhenti menjadi pengetahuan—
tetapi berubah menjadi tindakan untuk membuat kehidupan sedikit lebih baik. 🌱📚
— Abdulloh Aup
Guru yang Biasa Saja ✍️
(UNESCO)

Komentar
Posting Komentar