TELUR DARI TEMPAT YANG HINA
“Jangan terlalu cepat merasa mulia hanya karena berdiri di depan kelas dan pandai berbicara tentang pendidikan. Sebab seorang guru tidak diukur dari seberapa indah ia menjelaskan ilmu, tetapi dari apa yang tumbuh setelah ia selesai mengajar. Bisa jadi, yang paling berjasa bukan yang paling banyak bicara tentang pendidikan, melainkan yang diam-diam membuat satu anak menjadi sedikit lebih baik daripada kemarin.”
Guru dan Telur yang Dihasilkan
Kadang kehidupan mengajarkan sesuatu melalui hal yang justru ingin kita hindari.
Bukan dari buku.
Bukan dari seminar.
Bukan pula dari panggung orang-orang pintar.
Tetapi dari sesuatu yang kita anggap kotor.
Dubur ayam.
Tak pernah dipuji.
Tak pernah dianggap mulia.
Tetapi dari tempat yang hina itu, keluar sesuatu yang setiap pagi dibutuhkan manusia:
telur.
Ia tidak berpidato tentang manfaatnya.
Tidak menjelaskan betapa penting dirinya bagi kehidupan.
Tidak membuat janji.
Ia hanya bekerja.
Lalu telur itu ada.
Saya teringat D. Zawawi Imron, penyair dari ujung Madura.
Metaforanya kasar, tetapi justru karena itu terasa jujur.
Dubur ayam tidak pernah mengaku sebagai penghasil telur.
Ia tidak banyak bicara.
Hasilnya yang berbicara.
Lalu saya teringat kepada profesi kita sebagai guru.
Bukankah ada pelajaran penting di sana?
Guru setiap hari berbicara.
Menjelaskan.
Menerangkan.
Memberi nasihat.
Menyampaikan teori.
Menulis di papan.
Membuat perangkat pembelajaran.
Mengikuti rapat.
Mengikuti pelatihan.
Membicarakan pendidikan dari pagi sampai sore.
Semua itu penting.
Tetapi pada akhirnya, ada pertanyaan yang jauh lebih sederhana:
Apa “telur” yang kita hasilkan sebagai guru?
Sebab murid bukan sekadar angka di daftar hadir.
Bukan sekadar nilai di rapor.
Bukan sekadar persentase kelulusan.
Dan bukan pula sekadar bukti bahwa kita telah menyelesaikan materi.
Mungkin “telur” seorang guru adalah ketika murid yang dulu takut bertanya, akhirnya berani mengangkat tangan.
Ketika anak yang dulu merasa tidak mampu, perlahan berkata,
“Saya bisa.”
Ketika murid yang dulu malas membaca, suatu hari mencari buku dengan kemauannya sendiri.
Ketika anak yang sering membuat masalah, mulai belajar meminta maaf.
Ketika murid yang pernah kita tegur dengan keras, bertahun-tahun kemudian datang dan berkata:
“Pak, Bu, ternyata nasihat itu saya ingat sampai sekarang.”
Itulah telur.
Bukan selalu sesuatu yang bisa kita foto.
Bukan selalu sesuatu yang bisa kita masukkan ke laporan.
Tetapi sesuatu yang tumbuh dalam diri anak.
Karena itu, mungkin ukuran keberhasilan seorang guru tidak selalu terlihat pada saat ia mengajar.
Kadang hasilnya baru terlihat bertahun-tahun kemudian.
Guru menanam hari ini.
Murid mungkin baru memetiknya jauh setelah meninggalkan sekolah.
Kita mengajarkan kejujuran.
Kita tidak selalu tahu kapan ia akan diuji.
Kita menanamkan keberanian.
Kita tidak selalu tahu kapan ia akan membutuhkannya.
Kita mengajarkan membaca.
Kita tidak selalu tahu buku apa yang kelak akan mengubah hidupnya.
Kita mengajarkan kebaikan.
Kita mungkin tidak pernah tahu kepada siapa kelak kebaikan itu diteruskannya.
Begitulah guru.
Bekerja hari ini untuk hasil yang kadang baru terlihat bertahun-tahun kemudian.
Tetapi zaman ini juga mengingatkan kita pada satu hal.
Jangan sampai guru terlalu sibuk berbicara tentang pendidikan, tetapi lupa mendidik.
Terlalu sibuk membuat slogan tentang murid hebat, tetapi lupa membuat murid merasa dirinya berharga.
Terlalu sibuk membicarakan karakter, tetapi lupa memberi teladan.
Terlalu sibuk mengejar administrasi, tetapi kehilangan percakapan dengan anak.
Terlalu sibuk menjelaskan pentingnya belajar, tetapi lupa menumbuhkan rasa ingin tahu.
Sebab pendidikan bukan hanya apa yang kita katakan.
Sering kali, pendidikan justru adalah apa yang murid lihat dari diri kita.
Cara kita memperlakukan orang.
Cara kita meminta maaf.
Cara kita menghadapi kesalahan.
Cara kita bersikap ketika lelah.
Cara kita memperlakukan murid yang paling lemah.
Di situlah guru sedang menghasilkan “telur”-nya.
Maka saya semakin percaya:
Guru tidak harus menjadi manusia paling hebat.
Tidak harus menjadi guru paling terkenal.
Tidak harus menjadi pembicara pendidikan yang paling lantang.
Tidak harus setiap hari terlihat inspiratif.
Kita hanya perlu memastikan bahwa setelah kita hadir di ruang kelas, ada sesuatu yang tumbuh.
Satu anak menjadi lebih percaya diri.
Satu anak menjadi lebih jujur.
Satu anak kembali memiliki harapan.
Satu anak menemukan bahwa belajar ternyata menyenangkan.
Satu anak yang mungkin tidak pernah mendapat pujian di rumah, merasa bahwa di sekolah ada seorang guru yang percaya kepadanya.
Kalau itu terjadi…
mungkin kita sudah menghasilkan telur.
Barangkali itulah pelajaran paling sederhana dari metafora Zawawi Imron.
Sesuatu tidak menjadi mulia karena tempatnya.
Dan seseorang tidak menjadi bermanfaat hanya karena kata-katanya.
Manfaat harus punya bukti.
Dubur ayam tidak pernah dipuji.
Tetapi telurnya dicari.
Guru mungkin juga begitu.
Tidak semua kebaikan kita diketahui.
Tidak semua pengorbanan kita dikenang.
Tidak semua murid akan kembali mengucapkan terima kasih.
Tetapi jangan khawatir.
Tugas kita bukan memastikan semua orang melihat telur itu.
Tugas kita adalah terus menghasilkan.
Terus mengajar.
Terus menanam.
Terus mendampingi.
Terus percaya bahwa dari satu anak yang kita temui hari ini, mungkin akan lahir sesuatu yang baik untuk banyak orang di masa depan.
Jadi, sebagai guru, mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Setelah sekian tahun mengajar, telur apa yang sudah kita hasilkan?
Bukan berapa banyak kata yang sudah kita ucapkan.
Bukan berapa banyak sertifikat yang sudah kita kumpulkan.
Bukan berapa banyak seminar yang sudah kita ikuti.
Tetapi…
berapa banyak kehidupan yang menjadi sedikit lebih baik karena pernah bertemu dengan kita?
“Guru yang baik, meninggalkan tumbuh.”
Abdulloh Aup
Guru yang biasa saja

Komentar
Posting Komentar